Oleh: Ody Yunanda
Perhelahatan pesta demokrasi alias pilkada akan segera berlangsung di Aceh. Eforia para kandidat pun saat ini sudah tersedot ke ajang pemilihan tersebut. Beberapa nama mulai bermunculan mendeklarasikan diri sebagai bakal calon (balon) Gubernur Aceh 2017, di antaranya Ketua Umum Partai Aceh (PA) yang saat ini mejabat sebagai Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, juga Zakaria Saman alias Apa Karya, Tarmizi A Karim, mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan salah satu nama yang menyedot perhatian Masyarakat yakni Zaini Abdullah alias Abu Doto yang merupakan Gubernur Aceh sekarang.
Dinamika politik pun saat ini terus bergerak, tentunya setiap kandidat bakal calon sudah memainkan peran penting dalam pergerakan tersebut. Tentunya semua gerak itu akan selaras dengan pentingnya tujuan demokrasi di Aceh yaitu landasan MOU Helsinki dan UUPA.
Namun sangat disayangkan, gejolak politik Aceh saat ini dibungkus dengan bendera yang sampai sekarang belum ada titik terang. Hasil Kom kali Kom pun bermunculan, salah satunya pernyataan dari Zakaria Saman alias Apa Karya yang mengatakan bahwa bendera tidak terlalu penting, yang terpenting adalah kesejahteraan rakyat. Bahkan dalam satu pemberitaan media diberitakan bahwa Apa karya sempat menyebutkan bendera sebaiknya dibuang ke parit saja.
Pernyataan Mantan Menteri pertahanan GAM itu sontak membuat semua kalangan geram, beragam anggapan pun bermunculan, salah satunya dari Mantan Wakil Panglima GAM Wilayah II Simpang Ulim – Peureulak, Aceh Timur Samsul Bahri alias Abu Nawah. Abu Nawah meminta Apa Karya untuk segera minta maaf kepada rakyat Aceh karena telah menganggap bahwa bendera Aceh tidak penting.
Tak tanggung tanggung, pernyataan yang dikeluarkan oleh eks-kombatan GAM wilayah Pase yaitu Imran Pase, dalam sebuah media ia menuturan bahwa Apa Karya ka jawai alias tidak waras.