BANDA ACEH – “Wilayah nyoë jeut keu mideun prang laseuka Aceh lawan Beulanda nyang geupimpin lé Teuku Umar. Prang nyan bicah antara 8-21 April 1896. Panglima Polem ngon 400 droë pasôkan geuh geumeusapat bantu pasôkan Teuku Umar. Lam mideun prang nyoë le that ureueng syahid, lageë miseue Teungku Mat Amin, aneuk Teungku Chik di Tiro.”
Demikian untaian kalimat bahasa Aceh yang diukir rapi di sebuah prasasti berlatar kuning tembaga, yang direkatkan dengan beton. Selain bahasa Aceh, prasasti ini juga dibuat dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dibuat oleh Yayasan Bustanussalatin, prasasti itu berdiri di bawah monumen penerbang Maimun Saleh. Lokasinya ada di Gampông Aneuk Galong, Sibreh, Aceh Besar.
Sekilas, prasasti tersebut diduga adalah penjelasan Monumen si penerbang asal Aceh, Maimun Saleh. Namun jika diperhatikan lebih dekat, ternyata monumen ini menjelaskan adanya peristiwa besar yang pernah terjadi di daerah tersebut. Khususnya saat Belanda mencoba menguasai Aceh di abad 19 lalu.
Prasasti ini diberi judul dengan Benteng Aneuk Galong, salah satu lokasi strategis yang menjadi rebutan antara pasukan Kerajaan Aceh melawan Belanda tempo dulu. Adalah Teungku Chik di Tiro, sang pemimpin perang semesta menganggap kawasan ini adalah sebuah lokasi yang patut dipertahankan sebagai daerah penghubung untuk logistik perang dari Meureu ke Lambaro.
Ismail Jakub dalam bukunya Teungku Chik Di Tiro, Hidup dan Perjuangannya, telah merincikan betapa pentingnya kawasan Benteng Aneuk Galong tersebut baik untuk pejuang Aceh maupun Belanda. “…. tembakan meriam kompeni bertubi-tubi ditujukan ke Gle Kameng, untuk mematahkan pertahanan barisan sabil dari benteng-benteng sekelilingnya dan supaya jangan dapat memberi bantuan kepada pejuang yang hendak merebut benteng Aneuk Galong,” tulis Ismail Jakub di halaman 96 buku tersebut.
Peran strategis Benteng Aneuk Galong juga terlihat saat Belanda terus mempertahankan wilayah ini dari serangan pasukan Aceh. Padahal saat itu, 5 Maret 1883, Gubernur Belanda Van der Hoeven, telah memberitahukan kekhawatirannya kepada pemerintah pusat di Jawa mengenai serangan-serangan yang dilancarkan pasukan Aceh. Belanda saat itu dikepung dari beberapa sagi, termasuk dari Peukan Bada di bawah komando Teuku Umar. Namun kekhawatiran Van der Hoeven dijawab dengan mutasi jabatan. Dia diganti oleh Gubernur PF Laging Tobias yang sejatinya tidak bisa memperbaiki kondisi di Aceh. “Kedudukan Belanda di Aceh memberi putus asa,” ujar Tobias melihat kekacauan di Aceh setelah dia menjabat menjadi gubernur.