*Syamsiah Ismail, M.Pd.
Awal saya mengikuti pelatihan menulis mendapat informasi dari salah seorang dosen saya. Ketika itu saya sedang tugas akhir menyusun skripsi. Saya kuliah di FKIP, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia kelas jarak jauh cabang Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Serambi Mekkah, Banda Aceh.
Beliau menginformasikan bahwa ada pelatihan menulis di Banda Aceh selama sepuluh hari. Jika berminat, langsung saja menjumpai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten agar nama saya dapat didaftar. Peserta terbatas dan setiap kota/kabupaten berhak mengirim satu peserta. Tahun 2000 Aceh masih terdiri dari 17 kota dan kabupaten. Kenyataan sekarang (2016) mengalami pemekaran wilayah hingga 24 kota serta kabupaten se-Provinsi Aceh.
Ketika itu saya baru sepuluh tahun menjadi guru PNS di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Sekolah tempat saya bertugas saat itu tergolong lokasi daerah tertinggal. Jauh dari jalan raya sekitar 10 kilometer. Tanpa fasilitas listrik. Jalan becek dan berlumpur kala musim hujan. Badan jalan berbatu-batu tajam karena belum diaspal.
Anak-anak didik saya umumnya berasal dari keluarga nelayan karena sekolahnya tidak jauh dari pantai. Bahkan yang membuat saya sangat khawatir ketika pertama sekali menjadi guru di Gampông Blang Nibong. Betapa tidak? Minggu pertama aktif mengajar (1990), saya dibisikkan oleh seorang guru bahwa murid dalam kelas saya umumnya anak pakok.
Saya tidak paham kata pakok, kemudian dijelaskan bahwa itu istilah untuk penderita penyakit kusta di daerah tersebut. Wah, saya sempat merinding mendengar jenis penyakit itu. Setahu saya itu menular dan mengerikan karena pelan dan pasti sebagian anggota tubuh seperti jari kaki, tangan, hidung, dan lain-lain putus sendiri. Astagfirullah, ngeri-ngeri sedap membayangkan lingkungan anak didik saya.
Sejak itu saya menanyakan tentang penyakit itu pada teman-teman medis, bahkan dokter di Puskesmas. Di situ saya mendapat penjelasan bahwa mereka para penderita setiap dua bulan sekali turun tim medis ke Gampông Kuala (lokalisasi penderita kusta di Kecamatan Samudera). Mereka mendapat suntikan serum kusta untuk penyembuhan dan agar tidak menular pada anggota keluarganya atau masyarakat lainnya.
Kembali ke masalah pelatihan menulis. Setelah mendapat kabar dari dosen saya di Banda Aceh, sepulang sekolah dengan menumpang angkutan antar-Kota Bireuen Express, saya langsung meluncur ke Kota Lhokseumawe.
Jarak dari sekolah saya bertugas lumayan jauh sekitar 30 kilometer. Setelah perjalanan hampir enam puluh menit, sampailah saya di kota. Cuaca panas, gerah, dan lapar saya anggap sebaliknya. Adem dan kenyang perut saya demi mendaftar pelatihan menulis langsung ke dinas. Saya takut kehilangan kesempatan itu.
Ketika sampai di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu; sekarang berganti nama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga), saya langsung minta izin ajudan menghadap Kepala Dinas. Ketika itu jabatan Kadis di bawah kepemimpinan Bapak Drs. Abdullah Rasyid.
Dengan mengucap bismillah, menarik nafas dalam-dalam, saya buang jauh di pikiran rasa grogi. Saya mantapkan langkah memasuki ruangan yang berukuran 5 x 6 meter. Suasana ruangan yang ber-AC membuat saya benar-benar adem berada dalam ruangan Kadis.
Saya memberi salam sambil menjabat tangan beliau. Ketika itu beliau ditemani dua orang lainnya. Saya lihat seragam dinasnya pegawai setempat. Setelah dipersilakan duduk, saya sampaikan maksud kedatangan saya menghadap langsung Pak Kadis. Beliau menyambut dengan gembira dan sangat berterima kasih mengabarkan berita akan adanya pelatihan menulis.
Pat na guru sidroe teuk lagèe droeneuh yang beuhe peugah droe untuk meuruno? (Aceh: siapa guru lain seperti ibu yang berani menyampaikan keinginan belajar?) Sambutan beliau membuang rasa lapar saya yang sejak pagi belum sarapan, padahal waktu di jam tangan saya telah menunjukkan pukul 14.00.
Saya belum menemukan teman guru yang segila keinginan saya untuk ikut pelatihan, apalagi untuk menulis. Saya masih ingat, banyak guru yang mentah-mentah menolak ikut pelatihan apa saja ketika itu. Alasannya meninggalkan rumah dan keluarga.
Untuk apa lagi ikut pelatihan macam-macam? Sudah menjadi guru PNS. Gaji sudah tetap, beras catu dikasih pemerintah, suami sudah punya, dan anak-anak pun sudah ada. Yang penting saya setiap pagi datang mengajar. Habis waktu, pulang. Demikian celoteh guru yang masih saya ingat ketika diajak ikut belajar pada pelatihan apa saja, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi.
Singkat cerita, niat saya disambut baik oleh Pak Kadis. Nama saya dicatat lengkap dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) dan tempat saya bertugas. Keinginan saya sudah tercapai sehingga saya pamit pulang.
Di luar saya berpapasan dengan seorang guru senior. Beliau satu kecamatan dengan saya, tetapi pindah tugas menjadi pegawai dinas pendidikan. Tanpa berpikir panjang lagi, saya menyampaikan maksud kedatangan saya untuk menghadap Pak Kadis.
Harusnya guru yang dikirim ikut diklat yang sudah pintar menulis. Jadi, tidak sia-sia dikirim namanya, tercengang bercampur shock saya mendengar ucapannya.
Ketika itu beliau staf di bagian pendidikan dasar. Saya sangat mengenal beliau karena memang tinggal satu Kecamatan Samudera. Namun, tak pernah saya pikirkan beliau akan berkata seperti itu. Saya merasa sangat bodoh mendengar perkataan beliau. Saya tak ambil hati, tapi saya berjanji akan membuktikan bahwa saya juga bisa.