Prang-prang-prang.. Bletak-bletak-bletak… Dentuman baja dan besi saling beradu membuat siang itu tak cuma panas di tubuh. Tapi juga di telinga. Belum lagi raungan mesin-mesin konstruksi baja menambah bising.
Sesekali terlihat percikan api dari baja yang sedang dilas. Tumpukan baja berbagai ukuran berserakan. Lempeng-lempeng besi penambal baja bernasib sama. Bergelimpangan tak karuan.
Jangan aneh, ini merupakan pemandangan biasa di sebuah workshop konstruksi baja. Namun ada yang tak biasa. Sebuah crane kuning tampak mencolok. Namun bukan mesin itu yang jadi perhatian. Ada tulisan tak biasa di pabrik kontraktor itu.
“Utamakan Sholat dan Keselamatan Kerja” begitu moto yang tertulis di truk crane itu. Pesan sama juga terpampang besar di dinding pabrik.
Tak lama berselang, suara azan berkumandang. Tanpa komando, pabrik tiba-tiba senyap. Tak ada lagi deru mesin. Kegaduhan tiba-tiba menyepi. Satu per satu pegawai meninggalkan pekerjaannya.
Mereka bukan mau makan siang. Seperti kebanyakan pabrik dan pekerja kantoran. Mereka berbaris menuju satu ruangan yang sama. Budi Harta Winata menyebut itu ruangan paling bersih dan nyaman. Itu sebuah musala pabrik. Dan di azan dzuhur tadi, pabrik seolah mati total. Seluruh pegawai berduyun mengambil air wudhu. Mereka akan menjalankan sholat berjamaah.
Itulah keseharian di pabrik PT Artha Mas Graha Andalan di Cikarang, Bekasi, Budi Harta Winata adalah pemiliknya. Cerita itu terus menyebar. Menjadi viral dan mengundang kagum. Termasuk dari mulut Ustaz Anwar Sani, Direktur Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) Darul Quran.
Dia menyebut, usaha yang dilakukan Budi dengan mengajak karyawan untuk sejenak meninggalkan pekerjaan dan ibadah merupakan konsep baru dalam manajemen usaha. Spiritual company namanya.
Artha Mas Graha bukan satu-satunya yang menjalankan model bisnis ini. Sebut saja Ayam Bakar Mas Mono, restoran dengan menu utama ayam yang sudah memiliki banyak cabang di ibukota. Mas Mono memberlakukan sholat dhuha sebagai absensi pegawai. Bukan menempelkan jari di mesin absesi seperti kebanyakan pekerja kantoran.
Ada juga pengusaha yang menyelipkan sisi ibadah dalam menjalankan bisnisnya. Semisal mengaji bersama sebelum membuka toko..
Spiritual company, memang anak baru di dunia bisnis yang sudah berusia ribuan tahun. Istilahnya cuma segelintir orang tahu. Konsep ini mau mendobrak paradigma lama. Jika uang dan keuntungan adalah segalanya buat perusahaan. Ada yang lebih penting dikejar dalam urusan duniawi ini.
“Orang kalau masuk dunia usaha kerap disibukkan urusan dunia. Bahkan, seringkali tak menghiraukan urusan akhirat,” kata Anwar saat dihubungi Dream melalui sambungan telepon, Senin, 25 April 2016.
Anwar menceritakan spiritual company lahir dari kegelisahan sebagian kalangan terhadap roda dunia usaha. Motornya, ustaz Yusuf Mansyur, pemilik Ayam Bakar Mas Mono Agus Pramono, pendiri Waroeng Steak Jody Broto Suseno dan Budi Harta Winata, serta pengusaha lainnya.
Orang-orang ini punya misi mulia. Mengajak pelaku dunia usaha lebih giat beribadah. Ibadah bukan cuma urusan duniawi. Bukan juga kegiatan yang ada di rumah atau masjid. Itu bisa hadir juga di sebuah pabrik atau perusahaan.
Pendekatan semacam ini, Anwar mengakui, tak lepas dari metode yang dikembangkan PPPA Daarul Quran. Ini lembaga penghasil para hafiz dan dikenal getol menyebarkan konsep penguatan ibadah untuk perbaikan diri.
“Daarul Quran punya metode yang dinamakan Daqu Method. Dalam metode itu, intinya, menjalankan ibadah wajib dan menguatkan ibadah sunnah,” ucap dia.
Spiritual Company juga bukan membuat perusahaan terlarang mencari untung. Konsep ini tak juga beda jauh dengan model bisnis lama. Namun, ada satu goal yang berbeda dari konsep bisnis yang ada. Tujuan itu bernama quantum keuntungan.
“Quantum keuntungan itu artinya mendapatkan keberkahan di dunia dan akhirat,” ucap dia.