SITUS-situs yang menunjukkan bekas arena pertempuran Laksamana Malahayati dengan pasukan Portugis tak saya temukan, meskipun saya sedang mengapung di perairan Teluk Krueng Raya.
Duduk bersila di atas Rakit Busa putih, saya hanya melihat air hijau pekat di sekitar saya. Kita sedang di atas palongpalung laut, ujar Ajir, yang lekas menyalakan kamera smartphone.
Kami sudah terpaut 100 meter ke barat tebing Teluk Krueng Raya, atau, sekira setengah kilo meter ke utara Pelabuhan Malahayati. Tapi masih bisa saya lihat beberapa pemuda pemancing yang menyewa Rakit Busa ini dari seorang pria tua, Yahwa Karya.
Setengah jam lalu, ketika saya istirahat di daratan bersama kawan-kawan perjalanan, seorang dari pemuda itu tanyakan kami apakah ada yang bawa pisau. Selagi bersantai di dahan pohon tepi pantai, saya sahuti tanpa tanyakan untuk apa.
Setengah jam berlalu, pisau banyak mata made in Swiss kesayangan saya itu tak kembali. Saya menyusul pemuda itu bersama Ajir: badannya berotot. Saya punya bodyguard, kalau-kalau pemuda tadi macam-macam.
Di balik tebing ke utara sana, di tepian jurang, pemuda itu rupanya hendak membakar hasil pancingan bersama kawan-kawannya. Saya tak jadi mendekat. Tapi berhenti di dekat Rakit Busa yang dilabuhkan di tepi pantai dipenuhi batuan karang nan cadas.