TIGA negara hari ini panik lantaran kabut asap menyelimuti sebagian wilayahnya. Adalah Indonesia sebagai “tuan rumah”, Singapura dan Malaysia yang merasakan atmosfer kian sesak. Penyebabnya kebakaran hutan.
Bencana asap ini hampir tiap tahun dirasakan oleh kita. Kali ini, kabut asap bahkan menghampiri Aceh. Wilayah paling barat dari Indonesia.
Kabut asap yang dirasakan selain membuat mata perih, juga mengundang bahaya lain seperti infeksi saluran pernapasan akut atau Ispa. Meskipun cuaca mendung, kabut asap tersebut juga mendatangkan hawa panas. Tentu saja hal ini membuat keselamatan anak-anak kita menjadi terganggu.
Mengantisipasi bencana asap akibat pembakaran hutan tersebut membuat pemerintah Indonesia seakan kehabisan akal. Pemerintah pun mengundang negara-negara tetangga untuk sama-sama mencari solusi. Alat penanggulangan asap seperti helikopter dan pesawat penyiram air turut didatangkan. Namun asap kian bebal. Kepulannya bahkan semakin menjadi-jadi.
Beberapa tindak pencegahan akhirnya dilakukan. Pemerintah dari tiap provinsi menyerukan warga yang wilayahnya terdampak asap untuk menggunakan masker. Mereka ikut menarik cost penanggulangan bencana untuk membeli masker yang bakal dibagi-bagikan untuk warga.
Sosialisasi demi sosialisasi pun turut dilakukan. Otoritas terkait mengimbau warga agar membatasi aktivitasnya di luar rumah. Mereka juga meliburkan sekolah-sekolah agar keselamatan siswa tidak terancam.
Jika mau jujur, sebenarnya asap ini datang dari ketidakpatuhan para pihak terhadap pengelolaan hutan. Biasanya, para pengusaha perkebunan yang nakal menjadi dalangnya. Lahan-lahan gambut dibakar. Pertimbangannya, dana operasional pembukaan lahan lebih murah dibandingkan dengan menggali tanah untuk pengemburan. Dengan pembakaran, para pekebun menilai tanah menjadi subur. Modalnya cukup membeli minyak.