Sejak 1982, tanggal 21 September diperingati sebgai Hari Perdamaian Internasional. Tahun 2016 ini, dengan adanya perang di Syria (Suriah), penindasan terhadap muslim di Myanmar (Burma), dan berbagai…
Sejak 1982, tanggal 21 September diperingati sebgai Hari Perdamaian Internasional. Tahun 2016 ini, dengan adanya perang di Syria (Suriah), penindasan terhadap muslim di Myanmar (Burma), dan berbagai tempat lain, kabar 21 September sepertinya agak sepi.
Jika melihat ke Aceh, jangankan memperingati hari perdamaian dunia, memperingati hari perdamaian (MoU Helsinki sejak) 15 Agustus (2005) saja agak sepi, dan pemerintah Aceh yang dipimpin orang-orang pendamai pun membuat acara yang berkesan sekedar seremonial tanpa berusaha mendalami makna perang yang telah dialami puluhan tahun dan mengapa harus berdamai.
Hal itu semakin terabaikan dengan adanya rencana menghadirkan pasukan pengaman untuk pilkada 2017. Rencana itu disebutkan untuk mengamankan. Sementara, anak-anak saja tahu bahwa hadirnya pasukan keamanan dalam jumlah banyak di sebuah daerah menandakan daerah tersebut tidak aman. Dan, khusus untuk Aceh, itu dapat mengembalikan rasa trauma konflikyang secara teknistelah berlalu sejak 10 tahun silam.
Apabila merujuk pada keadaan Acehlagi-lagi yang secara teknis telah aman–, maka pihak di Aceh yang bersikukuh terhadap perlunya pasukan pengaman tambahan (BKO) untuk pilkada 2017 di Aceh adalah kaum yang menderita penyakit paranoid.
Hal itu dengan pertimbangan, bahwa jumlah pasukan resmi (TNI dan Polri) di Aceh menurut MoU Helsinki–ditambah jumlah yang didatangkan setelahnya dengan alasan mengamankan pilkada dan pemilu sebelum 2017– berjumlah banyak–dibandingkan wilayah lain di Indonesia apalagi dibandingkan dengan jumlah penduduk Aceh.
Dengan bahasa sederhana, pasukan keamanan yang sudah ada di Aceh, sepertinya telah lebih dari cukup, karena Aceh tidak tengah berperang. Oleh karena itu, penambahan pasukan pengaman untuk Aceh–dengan alasan apapun–dapat dinilai sebagai rasa tidak percaya dirinya pihak-pihak terhadap dirinya sendiri.
Maka, di hari Perdamaian Dunia ini, seharusnya Aceh dan siapa saja yang terkait dengannya berpikir secara damai, berpikir dan bertindak sebagai orang-orang yang hidup di dalam sebuah negeri yang damai dan aman, tanpa ketakukan, dan tanpa menebarkan ketakutan, namun menebarkan kedamaian.
Menurut Wikipedia.org, Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace), terkadang secara tidak resmi ada yang menyebutnya Hari Perdamaian Dunia (World Peace Day), diperingati setiap tahun pada tanggal 21 September.
Peringatan ini didedikasikan demi perdamaian dunia, dan secara khusus demi berakhirnya perang dan kekerasan, misalnya yang mungkin disebabkan oleh suatu gencatan senjata sementara di zona pertempuran untuk akses bantuan kemanusiaan.
Hari Perdamaian Internasional pertama kali diperingati tahun 1982, dan dipertahankan oleh banyak negara, kelompok politik, militer, dan masyarakat.
Pada tahun 2013, untuk pertama kalinya, hari peringatan ini didedikasikan oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk pendidikan perdamaian, sebagai sarana pencegahan yang penting untuk mengurangi peperangan yang berkelanjutan.
Untuk membuka hari peringatan ini, Lonceng Perdamaian PBB dibunyikan di Markas Besar PBB (di Kota New York).
Lonceng tersebut dibuat dari koin-koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua selain Afrika, dan merupakan hadiah dari Asosiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dari Jepang, sebagai “suatu pengingat atas korban manusia akibat peperangan”; pada salah satu sisinya tertulis, “Long live absolute world peace” (Panjang umur perdamaian dunia sepenuhnya.
Hari Perdamaian Dunia di Aceh, 21 September 2016 tidak diperingati, dan apakah tidak cocok untuk diperingati? Ironis, bahwa di hari perdamaian dunia, orang Aceh diresahkan dengan tebaran ketakutan terhadap keamanan pilkada 2017.
Mengapa Jakarta tidak mengirim baju dan mainan untuk anak-anak, makanan-makanan bergizi, di Hari Raya Haji ini, seperti Turki mengirim bantuan itu ke Gaza Palestina. Mengapa bukan bantuan kemanusiaan–atau apa saja hal serupa untuk membantu rakyat miskin di Aceh– yang dikirim, malah pasukan tentara atau polisi?
Di Hari Perdamaian Dunia ini, mohon, berikanlah rasa aman dan damai yang sejati, bahwa kebijakan negera menjamin rasa aman untuk rakyat. Salam perdamaian dunia dan Aceh.[]