Suspension Of The Judgement

Suspension Of The Judgement

Penulis : Dwi Nugroho
(Penggerak Pusat Studi Desa)

Dulu sebenarnya sebagai pemburu beasiswa pernah ada keinginan untuk menjadi kelompok minoritas. Ntah kenapa pernah berpikir demikian. Tapi, saya berpikir sebagai seorang muslim tentu hal itu akan menjadi ukuran tersendiri untuk mengukur kesalehan dan ketakwaan seseorang.
Tentu akan lebih menarik jika hidup sebagai minoritas namun memiliki kemajuan berpikir dan upaya-upaya progresif dalam bergerak.
Namun sayangnya keinginan itu belum tercapai untuk saat ini. Tapi belum tahu mungkin tahun depan atau tahun berikutnya. Mudah-mudahan bisa memenuhi impian tersebut.
Menjadi minoritas tentu memiliki tantangan dan kesulitan tertentu. Mulai dari anggapan sebagai kelompok radikal, teroris, dan kelompok-kelompok konservatif. Namun terkadang penilaian itu menggunakan kacamata dangkal. Hasilnya publik mengenelisir bahwa muslim-muslim yang menyerupai kelompok radikal dan kelompok-kelompok lainnya, baik cara berIslam, cara berpakaian, dan berperilaku adalah sama.
Stigmatisasi tersebut tentu justru akan membentuk paradigma ‘Islamphobia’ di kalangan masyarakat yang biasa. Akhirnya mampu menciptakan kebencian, bahkan mungkin saja akan memicu pergesekan dan perpecahan.
Di Barat Islamphobia terjadi karena dasar kebencian terhadap muslim terkait sejarah maupun peristiwa yang saat ini terjadi, misal masifnya gerakan kelompok radikal dan terorisme. Dunia global dengan mentah mengenelasir itu sebagai upaya-upaya muslim sebagai minoritas tanpa ada sebuah dasar yang jelas.
Walaupun itu dilakukan oleh muslim belum tentu itu di dasarkan pada keinginan atau syariat dakwah karena bisa jadi itu merupakan hasrat pribadi atau kelompok tertentu. Bukan kemauan Islam secara keseluruhan.
Saya menemukan fakta baru bahwa Islamphobia tidak hanya terjadi di Barat dengan muslim minoritas namun juga di Indonesia dengan mayoritas muslim. Kacamata yang salah banyak digunakan seseorang untuk melihat fenomena.
Semalam ketika saya melakukan sosial eksperimen yang sebenarnya tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Hasilnya benar saja masyarakat masih menggunakan kacamata yang salah dan menutup sebelah mata untuk kebenaran-kebenaran yang lain. Saya serasa menjadi minoritas di kalangan mayoritas hanya dengan pakaian yang saya kenakan.
Sosial eksperimen itu saya lakukan dengan berjalan dari RS Ahmad Yani kota Metro menuju arah ke 21 dengan berjalan kaki. Saya memutuskan untuk berhenti di perempatan dan menunggu teman untuk menjemput. Saya berpikir respon masyarakat biasa saja dengan pakaian yang saya kenakan. Mereka tidak mencurigai saya sebagai bagian kelompok konservatif.
Namun berbeda setelah saya putuskan duduk di perempatan. Ketika itu dibalik kiri belakang saya berjalan seseorang laki-laki kira-kira berumur 40-45 tahun dan menghampiri saya dengan gelagat yang sebenarnya sopan tapi penuh kecurigaan.
X : amet yo mas
Saya : iya Pak
Saya pikir dia akan berlalu dan meninggalkan saya sendiri. Sebenarnya saya juga memiliki pikiran bahwa apakah orang ini akan berlaku jahat dan berusaha merampas barang-barang yang saya bawa.
X: amet yo mas
Saya mengucapkan hal yang sama “iya Pak”. Sampai berulang kali dia mengucapkan hal yang sama dan begitu pun saya menjawabnya dengan tenang “iya Pak”. Akhirnya saya berinisiatif menanyakan ” Maaf Pak, sebenarnya ada apa ya?”
Mungkin ia mencurigai saya sebagai anggota kelompok konservatif yang sedang melakukan pemetaan. Dan benar saja pembicaraan kami semalam mengarah ke sana.
X: maaf ya mas. Sekarang kan banyak ya gerakan teroris dan itu terjadi di mana-mana
Saya: ohhh, bukan Pak, saya orang biasa yang kebetulan sedang menunggu jemputan. Saya dengan tegas menjelaskan hal itu.
X : mas dari mana? Dengan penuh kecurigaan ia mulai menanyakan identitas saya
Saya : saya dari apotik Pak, kebetulan motor saya bocor dan saya minta temen untuk bawa pulang dan mengambil motor yang lain. Akhirnya saya jelaskan latar belakang sampai tempat asal, domisili, aktivitas, namun tidak sampai memberikan kartu identitas dengan harapan ia memahami bahwa saya bukan bagian dari kelompok radikal.
Namun ia juga tidak bergeming dan mempercayai begitu saja apa yang keluar dari mulut saya. Justru ia bercerita terkait gerakan kelompok radikal dan teroris yang ia ketahui di Metro dengan harapan saya menjelaskan identitas saya yang lain dan mungkin saja berharap saya mengakui bahwa saya anggota kelompok radikal.
X: Metro ini sudah disusupi kelompok-kelompok radikal mas, bahkan teroris. Dua tahun yang lalu pernah terdeteksi gerakan mereka di sini.
Namun sayangnya kacamata yang mereka gunakan salah kaprah. Ya tapi wajar saja jika mereka mencurigai saya sebagai orang asing bukan anggota kelompok radikal. Dan, saya bisa menerima itu. Tapi pertanyaannya apakah ketika saya mengenakan pakaian biasa (kaos dan celana jins) ia tetep akan menganggap bahwa saya merupakan anggota kelompok radikal. Tentu berbeda kesimpulannya, ia mungkin menganggap saya punya niat buruk ingin mencuri, anggota anak jalanan, dan lain sebagainya.
Artinya publik sejauh ini menggunakan kacamata yang salah dalam melihat kejadian tanpa melakukan crosscheck yang lebih dalam. Bahkan mereka mengambil kesimpulan dari apa yang mereka lihat saja tanpa ada upaya lebih jauh untuk melihat dari banyak aspek.
Akhirnya saya timpali pembicaraan semalam dengan fakta-fakta lapangan yang menjelaskan dan menegaskan angggapannya dengan harapan pembicaraan dapat mengalir dan ia mengerti.
Saya : benar pak, benar jika sekarang sudah mulai masif kelompok-kelompok yang sampean utarakan tadi. Bahkan belum lama kan, beberapa anggota teroris dari Lampung di kirim ke Jakarta untuk proses lebih lanjut. Di lampung Timur pun demikian meskipun mereka belum terdeteksi berada dekat dengan kelompok yang mana. afiliasi mereka terungjap dan ditemukan di beberapa daerah. Bahkan jumlahnya mencapai 1000 an pengikut.
Sebenarnya semalam saya harap-harap cemas. Jangan-jangan saya mau diamankan dan atau bahkan dihamiki di tempat. Namun setelah saya jelaskan panjang lebar siapa saya dan apa yang saya lakukan di sana serta menunjukan obat yang saya beli ia mulai mengerti siapa saya meski kecurigaannya masih tetap sama. Tapi setidaknya saya telah menjelaskan untuk bertukar pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *