Menumbuhkan Ekonomi Kreatif, Dengan Diversifikasi Pangan (Bagian 1)

Menumbuhkan Ekonomi Kreatif, Dengan Diversifikasi Pangan (Bagian 1)

Penulis : Mustika Edi
(Penggerak Payungi)

Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman yang tersebar di penjuru Nusantara. Selain beras, beberapa sumber karbohidrat lain yang dapat dijadikan sebagai makanan pokok diantaranya sagu, jagung, kentang, pisang, talas, sorgum dan umbi kayu. Sumber-sumber karbohidrat ini sebenarnya memiliki kandungan gizi yang setara dengan nasi – makanan pokok utama masyarakat Indonesia, bahkan lebih menguntungkan karena indeks glikemiknya yang lebih rendah ketimbang nasi. Meskipun demikian, keragaman sumber karbohidran ini belum bisa dimanfaatkan secara optimal, mengingat mayoritas masyarakat sudah terbiasa dengan nasi.
Pada tahun 2019, besaran konsumsi beras mencapai 94,9 kilogram per kapita per tahun, turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 97,1 kilogram per kapita per tahun. Namun, penurunan konsumsi beras tersebut justru diikuti dengan peningkatan konsumsi terigu dan bukan oleh pangan lokal lainnya. Tercatat konsumsi terigu masyarakat Indonesia di tahun yang sama mencapai 17,8 kilogram per kapita per tahun. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber karbohidrat lainnya seperti umbi kayu 8,6 kilogram, ubi jalar 3,5 kilogram dan kentang 2,9 kilogram per kapita per tahun. Bahkan bahan pangan lain yang bisa dijadikan sumber karbohidrat di konsumsi tidak lebih dari 1,7 kilogram per kapita per tahun.
Kurangnya pemanfaatan sumber pangan nonberas, kerap mendorong pemerintah untuk melakukan impor beras ke beberapa negara tetangga seperti Thailand. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat bahwa pada tahun 2017 Indonesia melakukan impor beras sebesar 305,27 ribu ton. Kemudian impor meledak pada tahun 2018 yang tembus hingga angka 2,25 juta ton, kendati pada tahun berikutnya (2019) Indonesia hanya menginpor beras sebanyak 444,5 ribu ton. Impor beras masih dilakukan oleh pemerintah karena produksi padi dalam negeri dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, di mana pada tahun 2019 produksi padi hanya 54,60 juta ton, turun 7,76 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 59,20 juta ton. Sementara produksi beras juga mengalami penurunan, dari 33,94 juta ton menjadi hanya 31,31 juta ton di 2019. Meskipun lahan pertanian di tahun yang sama mengalami kenaikan menjadi 7,4 juta hektar dibandingkan tahun 2018 seluas 7,1 juta hektar. Artinya produktivitas sektor pertanian, terutama hasil padi di Indonesia kurang baik, sehingga perlu adanya diversifikasi sumber pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional agar impor dapat ditekan.
Untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional, pemerintah telah berupaya melalui program pengembangan food estate. Food estate merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024, sekaligus menjadi program prioritas kedua setelah program pengembangan lima Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Pengembangan food estate untuk menjadi lumbung pangan ini dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan dan peternakan di atas lahan seluas 600.000 hektar yang terletak di Kalimantan Tengah. Dari total lahan yang dimanfaatkan dalam program ini, 60.000 hektar akan ditanami tanaman singkong. Mangingat tanaman singkong lebih mudah untuk ditanama ketimbang padi. Selain itu, pemerintah juga berupaya agar sumber bangan nonberas dapat dioptimalkan manfaatnya untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional.
Disamping itu, dalam menumbuhkan ketahanan pangan dan perekonomian nasional, pemerintah melakukan mengembangkan sub sektor ekonomi kreatif melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (kemenparkraf). Terdapat 17 sub sektor ekonomi kreatif yang menjadi fokus dari kemenparkraf untuk dioptimalkan peranannya, yaitu Aplikasi, Pengembangan Permainan, Arsitektur, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), Desain Produk, Fesyen, Film Animasi dan Video, Fotografi, Kerajinan Tangan (Kriya), Kuliner, Musik, Penerbitan, Periklanan, Seni Pertunjukkan, Seni Rupa, serta TV dan Radio. Selanjutnya, dalam mendorong pengembangan sub sektor ekonomi kreatif tersebut, kemenparkraf telah melakukan berbagai upaya percepatan ke arah pemanfaatan sumber daya ekonomi lokal yang ada di berbagai daerah, khususnya kabupaten/kota sebagai penghasil utama produk unggulan. Kemenparkraf juga mendorong adanya inovasi pada produk-produk lokal di daerah – hasil pertanian, kriya, dan berbagai kesenian – agar nilai jualnya di pasar dapat meningkat.
Dari 17 sub sektor ekonomi kreatif ini, kuliner menjadi salah satu sub sektor yang banyak berkontribusi dalam peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Hasil ini tidak lepas dari adanya usaha dari tiga aktor penting pendorong perkembangan ekonomi kreatif lokal yaitu para cendikiawan, wirausaha dan pemerintah. Mereka menjadi motor penggerak tumbuhnya kuliner daerah yang terus mengalami inovasi seiring dengan adanya permintaan masyarakat dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan milenial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *