Oleh: Taufik Sentana*
Telah banyak ulasan tentang urgensi keluarga, baik secara sosiologis, ekonomis dan religis. Keluarga disebut pula sebagai benteng terakhir bagi kelangsungan nilai nilai baik di masyarakat. Ini hanya didapat bilamana setiap keluarga memahami peran tanggung jawabnya masing-masing dan memiliki acuan-pijakan dalam mencapai tujuannya.
Bagi masyarakat muslim, tentu acuan umumnya adalah pola pendidikan yang ditawarkan Islam, secara individu dan kolektif, sejak lahir hingga wafat, dalam keadaan susah ataupun senang, dunia dan akhirat.
Terkhusus di masa pandemi sekarang ini, yang ditengarai oleh para ahli akan membias pada kehidupan masyarakat hingga dua tahun ke depan. Terutama secara ekonomis dan psikologis, tentu akan memberikan alur perspektif yang baru dalam menyiasati keadaan sekarang, apalagi bila disandingkan dengan pesatnya laju informatika-digital yang bisa menghubungkan apa saja dan mengakses apapun dengan mudah.
Bila kita kaitkan dengan upaya ketahanan keluarga berdasarkan pengantar di atas, maka ada beberapa titik poin yang bisa kita perhatikan.
Pertama, menata dan menatap ulang visi keluarga. Memang ini tampak formil, seakan hanya berlaku bagi kalangan keluarga dengan kelas intelektual tertentu. Padahal ini dapat dimulai dengan santai dan diperlukan oleh setiap keluarga. Bahasa sederhananya, memperbaiki bersama perihal “niat” membangun keluarga, baik.sebagai ayah atau kakek dan disesuaikan dengan kondisi keluarga sekarang dan harapan terbaik untuk hari esok, dunia dan di akhirat.
Kedua, menyoal problem solving. Yaitu menakar kembali ukuran baik-buruk dalam keluarga dan kebiasaan kebiasaannya. Menitik beratkan pada hal hal apa yang mendesak diperbaiki dari segi anggota keluarga, aktivitas dan pola interaksinya.