Dalam sebuah kalimat, satuan bahasa tertentu dapat saja dipindahkan ke posisi lain karena sifatnya yang tidak terikat (opsional). Pemindahan itu tidak menyebabkan perubahan makna.
Sebagai contoh, kalimat Dia tidak pulang ke rumah hari ini memiliki satuan bahasa yang dapat dipindahkan posisinya, yaitu hari ini. Satuan bahasa ini dapat saja dipindahkan ke awal kalimat sehingga menjadi Hari ini dia tidak pulang ke rumah. Tidak ada perubahan makna ketika hari ini dipindahkan ke awal walaupun sebenarnya ada perubahan dari segi penekanan unsur yang dipentingkan.
Beberapa satuan bahasa lainnya yang bukan merupakan penanda waktu juga dapat dipindahkan posisinya seperti dalam kalimat berikut, Kamu saya tunggu di rumah. Kalimat ini dapat saja menjadi Saya tunggu kamu di rumah. Perhatikan bahwa kamu yang merupakan kata ganti orang dapat saja berpindah posisinya dari awal kalimat ke tengah kalimat setelah kata tunggu. Sebagaimana hari ini, pemindahan kamu ke tengah kalimat tidak mengubah makna kalimat tersebut.
Namun, jangan dikira gejala kebahasaan seperti pada kedua contoh kalimat di atas dapat diperlakukan sama pada semua satuan bahasa. Artinya, tidak semua satuan bahasa dapat dipindahkan posisinya karena jika dipindahkan akan terjadi perubahan makna.
Contohnya kalimat berikut, Janda dan tiga orang anak masuk Islam di Cot Girek. Kalimat ini saya temukan di salah satu media daring di Aceh. Bila dicermati dengan saksama, tidak ada satu pun satuan bahasa dalam kalimat ini dapat dipindahkan. Jika dipindahkan, kalimat itu menjadi kalimat yang tidak benar. Kalaupun dapat dipindahkan, maknanya akan berbeda dengan kalimat itu.