TERKINI
PROFIL

Pemuda Harapan Umat

Kini kita hidup di era globalisasi dengan berbagai macam teknologi dan inovasi baru. Menuntut penduduk dunia terus bergerilya sekuat tenaga dan selektif di segala aspek…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 2K×

Kini kita hidup di era globalisasi dengan berbagai macam teknologi dan inovasi baru. Menuntut penduduk dunia terus bergerilya sekuat tenaga dan selektif di segala aspek kehidupan untuk membendung diri dari bergagai pengaruh yang negatif, sedang dan akan dilakoni di jagad raya ini.

Salah satu elemen masyarakat yang harus berperan dalam “berjihad” di era globalisasi ini adalah sang pemuda sebagai sosok the leader of tomorrow (pemimpin masa depan).

Banyak catatan senjarah mengukir peran pemuda dengan tinta emas sebagai pelopor kemerdekaan dan revolusi bangsa. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia pemuda mempunyai kontribusi dan eksistensi serta perannnya sangat besar dalam mengusir penjajahan hingga kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Namun mempertahankan dan merealisasikan kemerdekaan itu akan sia-sia tanpa partipasi semua pihak terutama pemuda.

Perjuangan mereka hingga detik ini belum usai. Bahkan, perjuangan saat ini lebih menantang dan penuh lika-liku. Di sini peran pemuda dituntut untuk bisa menjawab tantangan zaman dengan segala kemampuan untuk aktif berkontribusi positif terhadap pembangunan, baik melalui tarbiyah, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Pemuda dalam lintasan sejarah

Dalam lintasan sejarah gerakan Budi Utomo yang lahir pada 1908 telah menyerukan dan mengumumkan nilai-nilai  persatuan dan kesatuan kepada masyarakat, agar bangsa Indonesia ketika itu menjadi sebuah bangsa dengan satu kesatuan.

Singkat cerita, gerakan pemuda yang tidak kalah kontributif pada tahun 1928 yang dimotori oleh pelajar Indonesia di Belanda yang membentuk Kongres Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI). Kemudian pada bulan Agustus 1928 disusunlah panitia kongres yang melibatkan berbagai organsisasi pemuda. Tokoh-tokoh seperti Sugondo Djojopuspito, Muhammad Yamin hingga J. Leimena juga muncul dalam kepanitian tersebut. Kongres Pemuda selanjutnya berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu. 27-28 Oktober 1928. Pada rapat penutupan di hari terakhir kongres, diperdengarkanlah lagu Indonesia Raya gubahan W.R. Supratman. Ketika itu lagu tersebut hanya dimainkan dengan biola tanpa syair.

Rumusan Sumpah Pemuda sendiri ditulis oleh Moehammad Yamin yang disetujui Soegondo Djojopuspito sebagai ketua pantitia kongres. Adapun bunyi teks Sumpah Pemuda yang kita kenal yaitu: pertama, kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia. Kedua, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, kami poetera dan poeteri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Pemuda dalam perspektif Alquran

Alquran sudah menggambarkan sosok pemuda ideal. Sangat banyak ayat yang mengupas tentang pemuda. Di antaranya, “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”(QS. Al-Kahfi 10).

Alquran adalah mukjizat Rasulullah SAW yang kekal dan sangat menarik. Di dalamnya termuat semua hukum-hukum dan masalah-masalah yang ada pada kehidupan manusia. Dimulai dengan hubungan manusia dengan tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya, bagaimana mengatur hidup manusia dalam bermasyarakat, bagaimana hukum mengenai kepemimpinan dan seluruh problema kehidupan manusia termuat dalam Alquran.

Di dalamnya memuat secara global “undang-undang” pada kehidupan manusia, dan Allah mengutus nabi dan imam untuk menjelaskan makna luar biasa yang terkandung dalam Alquran. 

Riwayat dari Sulaiman bin Ja’far, dia berkata, Imam Ja’far bin Muhammad mengatakan, “wahai Sulaiman, siapakah pemuda itu?” Kemudian aku menjawab, “….. pemuda bagi kami adalah orang yang masih muda”. Lalu beliau berkata kepadaku, “seperti yang kau tahu bahwa ashabul kahfi semuanya adalah orang-orang tua akan tetapi Allah menamai mereka sebagai pemuda karena keimanan mereka. Wahai Sulaiman, barangsiapa beriman kepada Allah dan bertakwa maka dialah pemuda.”

Pada kesempatan lain Imam Ja’far as-Shadiq pernah berkata, “Pemuda adalah seorang  mukmin”. Maka inilah definisi terbaik untuk kata pemuda, kata-kata apalagi yang lebih indah dan benar dari Alquran dan kalam suci Rasul dan Ahlulbaitnya.

Ketika melihat sekeliling kita maka banyak kita temukan orang-orang yang masih muda. Akan tetapi mereka bukanlah pemuda karena mereka meninggalkan keimanan mereka, dan menanggalkan baju ketakwaan mereka sehingga mereka tidak dikatakan pemuda. Di lain tempat kita temukan orang-orang yang sudah menginjak masa tuanya, tetapi hakikatnya mereka adalah pemuda di mata Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Masa muda adalah bagian dari kegilaan”. Sungguh menarik sabda Sayyidul Wujud yang satu ini. Beliau mengatakan bahwa masa muda adalah bagian dari kegilaan, maksud dari perkataan indah ini adalah masa muda dipenuhi oleh gemerlap dunia yang menipu dan gejolak syahwat yang membara sehingga dapat “menggilakan” orang yang berada di masa tersebut dengan segala perilaku yang tak patut mereka lakukan.

Betapa indah pemuda yang hidup sebagai pemuda sejati yang Allah pun membanggakannya di hadapan malaikatnya. Adakah yang akan kita harapkan selain keridaan dan kedudukan tinggi di hadapan Allah? Semua kenikmatan hidup ini tidak berarti jika dibandingkan dengan keridaan Allah terhadap hambanya.

Di samping itu peran dari pemuda itu sendiri sangat menentukan dan kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam membentuk generasi qur‘ani yang diimpikan oleh segenap lapisan masyarakat. Sosok generasi penerus bangsa qur’ani memiliki andil yang besar dalam membawa perubahan dan pelopor di segala lini kehidupan, terutama perubahan akhlak dan moral para pemuda dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dengan akhlakul karimah yang berpedoman Alquran, generasi qur’ani akan mengerti dan memahami bagaimana menyelesaikan problematika dan fenomena yang dialami oleh generasi muda lainnya. Kita berharap semoga di Indonesia banyak tercipta pemuda dalam pandangan manusia dan pandangan Allah yang juga berguna bagi nusa dan bangsanya untuk membangun Tanah Airnya.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar