SALAH satu elemen negeri ini yang tidak dapat dialpakan dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya, dia tidak lain sosok yang bernama santri. Kini bangsa kita ini telah…
SALAH satu elemen negeri ini yang tidak dapat dialpakan dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya, dia tidak lain sosok yang bernama santri. Kini bangsa kita ini telah berumur kemerdekaannya 72 tahun (1945-2017). Jangka waktu yang sangat memungkinkan negara ini untuk terus bangkit dan berbenah diri walaupun realita di dalam masyarakat sangat banyak warga ini yang belum mendapatkan nikmat kemerdekaaan.
Kita sangat berharap pemerintahpun tidak boleh menutup mata dan harus peka terhadap fenomena tersebut. Terlepas dari itu semua ketika kemerdekaan telah diraih oleh para pejuang dan pahlawan serta masyarakat pendahulu, tugas kita saat ini mengisi kemerdekaan dengan tindakan dan nilai positif demi kemajuan dan kemakmuran negeri tercinta ini. Lantas siapa diantara elemen masyarakat yang lebih banyak harus memberikan kontribusi dan peran sertanya untuk mengisi kemerdekaan?
Salah satunya adalah santri sebagai generasi penerus bangsa, bukan dalam pengertian elemen lain harus dikesampingkan, namun mereka merupakan sebagai insan produktif dan sebagai sosok the leader of tomorrow (sang pemimpin masa depan).
Seorang santri dibebankan untuk memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembaraan pengetahuan dan rasa ingin mengetahui yang lebih besar dan harus menjadi pelopor sense of curiosity (rasa keingintahuan yang tinggi) dalam lingkungan. Slogan sense of curiosity dalam pepatah arab dikenal dengan ungkapan himmatul rizal tasqutu jibal (semangat seorang santri bisa menaklukan sebuah pegunungan).
Dalam menumbuhkan sikap sense of curiosity akan melahirkan iqrak (membaca) dengan talim yang dikreasikan dengan motivasi instrik. Membaca itu dikonotasikan sebagai talim (belajar). Iqrak itu pintu gerbang menuju ke samudera ilmu pengetahuan. Iqrak pun tidak terbatas kepada yang tertulis (iqrak bil qalam) namun segala perubahan dan fenomena alam yang terjadi juga harus mampu ditelaah dan di cerna yang dikenal dengan Iqra Kauniyah.
Hal ini dijelaskan secara gamblang dalam Al-Quran yang berbunyi: Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakanmanusia darisegumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq:1-5).
Syekh al-Maraghi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah memerintahkan kepada manusia supaya dapat membaca tersebut harus diulang-ulang, indikasinya dengan tanpa mengulang-ulang dan membiasakan dalam membaca tidak akan memberi kesan dan meresapnya ilmu dalam jiwa. Berulang-ualng perintah Allah SWT dalam pengertian sama dengan berulang-ulang membaca. Dengan demikian membaca itu merupakan salah satu bakat dari Rasulullah SAW.
Dalam tafsir lainnya seperti Tafsir Al-Azhar, disebutkan bahwa Rasulullah bukan orang yang pandai, beliau adalah ummi yang boleh dikatakan buta huruf, Namun Jibril mendesaknya untuk membaca sampai tiga kali meskipun Rasulullah tidak dapat menulis, pada akhirnya walaupun didesak tiga kali rasulullah juga dapat menghafal di luar kepala.
Al-Quran sendiri telah menggambarkan sosok tipe santri sense of curiosity tersebut, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi: Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang santri. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.Berikanlah kepada kami tabirnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menabirkan mimpi). (QS. Yusuf [12]: 36).
Interpretasi dalam ayat ini menunjukkan tentang jati diri seorang santri yang memiliki sense of curiosity.
Beranjak dari itu, makanya dengan memiliki sifat tersebut, seorang santri itu cenderung untuk banyak mencoba dan mempraktekan hal-hal yang berinovasi baru tentu saja yang bernilai positif. Realita saat ini menjawab hal demikian, dikala dalam komunitas masyarakat sedang tren dengan sebuah hal baru, misalnya model pakaian, bergaya, bertingkah laku dan lainnya, maka santri pun mengikuti, mempraktekannya dan memakai pakaian itu.
Biarpun demikian yang perlu diperhatikan secara seksama, sense of curiosity penulis maksudkan di sini adalah rasa keingintahuan yang positif dan inovatif, bukan sebaliknya, sehingga demikian sang santri akan menimbulkan hasrat untuk mencari, menguasai dan mentransferkan manfaatnya kepada masyarakat lainnya serta lingkungan sekitar kita untuk masa kini dan depan bahkan hari akhirat nantinya.[]