JAKARTA – Tak lama setelah konspirasi Central Intelligence Agency (CIA) untuk menggulingkan Presiden Sukarno melalui berbagai pemberontakan di rentang 1955-1958 terbongkar, Amerika Serikat menawarkan pelatihan militer. Hal ini melengkapi berbagai bantuan sebagai kompensasi yang diminta Sukarno. Bukannya memilih tentara, Sukarno malah meminta kepolisian untuk berangkat ke pelatihan itu pada 1959.
Berkah dari kebijakan ini klop dengan rencana Mobile Brigade (Mobrig) untuk membentuk pasukan Ranger dengan kemampuan light infantery. Mereka baru saja membentuk Sekolah Pendidikan Mobile Brigade (SPMB) di Watukosek, Porong, Jawa Timur pada 10 Juni 1955. Seluruh instruktur SPMB dikirim ke Filipina untuk mempelajari pembentukan pasukan ranger. Pada 16 Agustus 1961, Presiden Soekarno mengubah sebutan Mobrig menjadi Brigade Mobil atau Brimob.
“Pada pertengahan 1959 beberapa calon instruktur yang lolos seleksi dikirim ke Okinawa (pangkalan militer AS di Asia),” tulis Anton Agus Setiawan dan Andi Darlis dalam buku Resimen Pelopor: Pasukan Elite yang Terlupakan.
Pelatihan lanjutan dilakukan pada 1959 dan 1960. Pemerintah AS menugaskan US Army First Special Group Airborne dengan komandan Kapten Wilson untuk melatih.
Hasilnya, Kompi 5994 Ranger Mobile Brigade dengan kekuatan 80 personil. Jumlah ini terus bertambah hingga pada 1960 nama kompi ini diubah menjadi Resimen Pelopor. Senjata modern bikinan AS kala itu menjadi senjata operasional resimen ini. Awalnya mereka mendapatkan senapan serbu US Carabine, dan pada 1961 diganti dengan AR 15, cikal bakal senapan M16A1.
Resimen ini terlibat operasi penumpasan dan pembersihan berbagai pemberontakan, dari DI/TII Kartosuwiryo, DI/TII Daud Beureuh, PRRI, sampai operasi penumpasan DI/TII Kahar Muzakar. Saat pembebasan Irian Barat atau Operasi Tritura-pun mereka terlibat dalam penyusupan melalui Pulau Gorom, dekat dengan Fak Fak.
Satu-satunya noda merah Resimen Pelopor adalah saat melakukan Penyusupan ke Malaysia dalam Operasi Dwikora. Mereka berhadapan dengan SAS (Special Air Service) Inggris, Pasukan Gurkha, dan Tentara Diraja Malaysia yang jumlahnya terlalu besar sehingga banyak anggota Resimen yang gugur.