AKU ingin memberikan pendapat sedikit tentang sudut pandang pada sejarah yang baru-baru ini dimunculkan lagi, yaitu kabar angin (isu) tentang komunisme/sosialisme yang tergabung dalam PKI.…
AKU ingin memberikan pendapat sedikit tentang sudut pandang pada sejarah yang baru-baru ini dimunculkan lagi, yaitu kabar angin (isu) tentang komunisme/sosialisme yang tergabung dalam PKI.
Tulisan ini hanya tentang sudut pandang menilainya, dan sama sekali aku tidak berusaha menerka-nerka mengapa kabar angin itu dihembuskan sekarang. Itu hal lain lagi, dan tidak kita bicarakan di sini.
Setahuku, sosialisme/komunisme itu muncul dari pikiran manusia, sezaman dengan liberalisme, yang keduanya merujuk pada materialisme, secara tersembunyi dan langsung adalah kapitalisme atau otoriterisme.
Oleh karena itu, sosialisme/komunisme hanya bisa dibandingkan/disandingtikaikan dengan liberalisme dan semacamnya seperti pluralisme yang lahir dari pikiran manusia sezaman.
Maka, tidak mungkin dan bukan pada tempatnya karena tergelincir jauh apabila membandingkan sebuah ide manusia itu dengan agama samawi seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam.
Islam cuma bisa dibadingkan dengan agama sawawi lain seperti Yahudi dan Nasrani. Juga, tidak bisa dibandingkan dengan agama yang bukan sawawi yang merupakan lahir dari filosofi seperti Buddha, Hindu, dan sebagainya.
Secara logika perbandingan, kita hanya boleh membandingkan yang sepadan.
Tentang, katanya, disebutkan PKI (yang disebutkan beraliran sosialisme/komunisme) itu membunuh ulama, dan disebutkan juga ada kelompok lain dalam kekacauan yang hampir serupa juga membunuh ulama, maka yang perlu ditinjau adalah:
Pertama, mengapa mereka membunuh ulama, apakah karena ulama itu disebutkan terlibat gerakan pemberontak, ataukah karena ia ulama.
Kedua, pihak mana yang lebih banyak melakukan itu?
Dengan menganalisa secara logis dan realistis seperti itu, maka kita tidak perlu terjebak pada ego atau sok membela pihak-pihak —kecuali secara tanpa sadar atau sengaja kita memang pengikut salah satu pihak itu, kalau memang pengikutnya, apa gunanya bagi kita?—, karena kesadaran pada paristiwa lalu berdasarkan data fakta merupakan hal penting dalam meninjau peristiwa tersebut.
Kita hidup di zaman yang telah jauh dari itu, hanya mengetahuinya dari data yang ditinggalkan, dan kita tidak berhak menghakimi peristiwa masa silam dengan pikiran dan keadaan kita sekarang.
Kuulangi sekali lagi, bandingkanlah sesuatu dengan hal yang sepadan, sosialisme/komunisme hanya bisa dibandingkan dengan liberalisme dan pluralisme. Agama samawi seperti Islam hanya bisa dibandingkan dengan agawa samawi lain seperti Yahudi dan Nasrani.[]
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan