PARA pemikir Muslim sejak abad pertengahan sepertinya sudah meneliti tentang tertawa dan manfaatnya. Tak hanya satu, beberapa ilmuwan muslim mempunyai teorinya sendiri.
Ada dua hal penting yang bisa dicatat dari temuan para ilmuwan ini. Pertama, para pemikir Muslim tidak menerima segala informasi apa adanya. Bahkan tidak untuk sesuatu yang tampaknya sepele seperti tertawa. Mereka melakukan penelitian mereka sendiri dan mencoba untuk menjelaskan asal-usul dan karakteristik tertawa.
Kedua mereka semua mengakui bahwa tertawa memiliki sesuatu yang berkaitan dengan sirkulasi darah dalam tubuh. Lebih dari seribu tahun kemudian, ilmu pengetahuan telah menetapkan bahwa tertawa menurunkan tekanan darah dan meningkatkan aliran darah.
Mengutip laman mvslim, Selasa 12 Januari 2016, berikut beberapa pandangan mereka tentang misteri tertawa:
Muslim Ali ibn Rabban At-Tabari
Pada pertengahan abad ke-9, dokter Muslim Ali ibn Rabban at-Tabari menjelaskan tawa seperti ini: ” Tertawa adalah [hasil] dari bergolaknya darah [yang terjadi] ketika manusia melihat atau mendengar sesuatu yang mengalihkan perhatiannya. Jika ia kemudian tidak menggunakan kemampuannya untuk berpikir sehubungan dengan itu, ia dilingkupi oleh tawa.”
Dengan kata lain, menurut Ibn Rabban, tertawa adalah hasil dari ketidakmampuan seseorang untuk berpikir rasional tentang sesuatu yang tiba-tiba dilihatnya. Setelah mengutarakan bagian tersebut, Ibn Rabban berbagi definisi Aristoteles tentang manusia sebagai binatang tertawa, diikuti oleh pengamatan filsuf Yunani yang mengatakan dari semua binatang, hanya manusia yang bisa tertawa.
Abu Yusuf Al Kindi
Polymath Muslim terkenal Abu Yusuf al-Kindi, yang juga hidup pada abad pertengahan 9, mengomentari tertawa dalam sudut pandangan yang sama. Dia mendefinisikannya sebagai ” mengalirnya darah di jantung dengan tenang bersama dengan kebesaran jiwa menuju titik di mana sukacita akan terlihat” .