BANDA ACEH – Keluarga besar raja-raja Aceh, tuanku, uleebalang dan habib menggelar silaturahim di monumen Titik Nol Kota Banda Aceh yang juga dikenal sebagai titik peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam, Minggu, 10 September 2017. Selain silaturahim, dalam acara tersebut para keturunan pembesar Kerajaan Aceh Darussalam juga mengkritisi proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang dibangun di atas situs sejarah dan makam para raja.
Keturunan Raja Kuala Batee, Teuku Raja Nasruddin, dalam kesempatan tersebut mengatakan, Gampong Pande merupakan tempat yang pernah menjadi sebuah bandar atau kota besar pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dahulu. Karenanya kebijakan pemerintah yang membangun tempat pembuangan limbah tinja di lokasi situs sejarah dan makam para raja dan ulama ini sangat disesalkan.
“Tidak layak di sini dijadikan tempat pembuangan tinja, masih luas tempat lain di Aceh,” katanya.
Teuku Raja Nasruddin mengatakan menjaga situs sejarah dan warisan para raja bukan hanya kewajiban keturunan keluarga kerajaan dan para ulama saja. Namun, kewajiban tersebut berada di pundak seluruh masyarakat Aceh.