TERKINI
NEWS

Keturunan Raja-raja dan Bangsawan Aceh Tolak Pembangunan IPAL

BANDA ACEH - Keluarga besar raja-raja Aceh, tuanku, uleebalang dan habib menggelar silaturahim di monumen Titik Nol Kota Banda Aceh yang juga dikenal sebagai titik…

SIRAJUL MUNIR Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.3K×

BANDA ACEH – Keluarga besar raja-raja Aceh, tuanku, uleebalang dan habib menggelar silaturahim di monumen Titik Nol Kota Banda Aceh yang juga dikenal sebagai titik peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam, Minggu, 10 September 2017. Selain silaturahim, dalam acara tersebut para keturunan pembesar Kerajaan Aceh Darussalam juga mengkritisi proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang dibangun di atas situs sejarah dan makam para raja. 

Keturunan Raja Kuala Batee, Teuku Raja Nasruddin, dalam kesempatan tersebut mengatakan, Gampong Pande merupakan tempat yang pernah menjadi sebuah bandar atau kota besar pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dahulu. Karenanya kebijakan pemerintah yang membangun tempat pembuangan limbah tinja di lokasi situs sejarah dan makam para raja dan ulama ini sangat disesalkan.

“Tidak layak di sini dijadikan tempat pembuangan tinja, masih luas tempat lain di Aceh,” katanya.

Teuku Raja Nasruddin mengatakan menjaga situs sejarah dan warisan para raja bukan hanya kewajiban keturunan keluarga kerajaan dan para ulama saja. Namun, kewajiban tersebut berada di pundak seluruh masyarakat Aceh.

“Ini bukan hanya kewajiban keturunan raja, tapi semua bangsa Aceh, Nusantara wajib memelihara situs ini,” katanya.

Para keturunan raja dan keluarga istana kemudian menandatangani memorandum penolakan pembangunan IPAL di kawasan tersebut. Mereka kemudian turut berziarah ke makam-makam yang ada di lokasi Gampong Pande dan Gampong Jawa.

Informasi yang diterima wartawan menyebutkan, para keturunan raja yang hadir di acara tersebut seperti keturunan Raja Kuala Batee, Raja Negeri Dayah, Raja Jeumpa, Raja Bakongan, Raja Trumon, Tgk. Chik Emeptring, Raja Pase, Raja Pola, Raja Pedir, dan Raja Linge.

Selain itu hadir juga keturunan Panglima Sagi 26, Panglima Sagi 22, Panglima Sagi 25, Panglima Masjid Raya (Kutaraja), dan beberapa keturunan pembesar lainnya. Acara tersebut juga dihadiri oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dari Fraksi PKS, M. Nasir Djamil dan juga Arkeolog Aceh, Dr. Husaini Ibrahim.[]

SIRAJUL MUNIR
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar