TERKINI
NEWS

Kawanan Gajah Liar Terkepung di Penutungan

SUBULUSSALAM - Kawanan gajah liar yang sebelumnya berkeliaran di seputaran wilayah Kota Subulussalam, kini terkepung di kawasan perkebunan Desa Penutungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Kawanan…

DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 681×

SUBULUSSALAM – Kawanan gajah liar yang sebelumnya berkeliaran di seputaran wilayah Kota Subulussalam, kini terkepung di kawasan perkebunan Desa Penutungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Kawanan gajah liar yang diperkirakan berjumlah dua ekor, satu induk dan anak itu tidak bisa melewati parit tapal batas PT Laot Bangko. 

Sebelumnya hewan dilindungi itu juga sempat merusak sedikitnya sekitar 200 hektare lahan perkebunan masyarakat di Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri.

“Posisi gajah saat ini di kawasan Penutungan terkepung di sana, tidak bisa melewati parit tapal batas PT Laot Bangko,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Subulussalam, Syafrianda, S Hut, MM kepada portalsatu.com, saat ditanya kapan rencana translokasi kawanan gajah liar tersebut, Rabu, 30 Agustus 2017.

Syafrianda mengatakan hewan dilindungi itu akan ditranslokasikan ke Alur Baning, Aceh Tenggara, setelah pihak BKSDA Aceh dan Forum Konservasi Leuser (FKL) melakukan survey lokasi.

“Nanti ditembak bius, tapi tidak sampai pingsan, hanya untuk membuat dia pening saja supaya (bisa) menggiring ke mobil,” ujarnya.

Syafrianda berharap kerjasama dengan pihak PT Laot Bangko untuk proses evakuasi kawanan gajah yang terkepung di lokasi perkebunan milik perusahaan itu. 

“Mohon kerjasama, gimana caranya nanti gajah itu bisa keluar dari sana,” kata Syafrianda.

Ia mengatakan, sebelumnya sempat ada wacana translokasi gajah ke wilayah bengkung melalui Kapa Sesak, Trumon Timur, Aceh Selatan. Namun, hal itu tidak memungkinkan karena harus memperbaiki sebanyak delapan unit jembatan dan membangun barier (parit) berukuran 3×3 meter sepanjang 10 kilometer, diperkirakan menelan anggaran yang sangat besar mencapai Rp7 miliar, sehingga tidak efektif dan tidak efisien.

“Karena itu, solusinya melalui jalan darat lintas pasar hitam bawa ke Aceh Tenggara lalu dilepas di alur baning, di sana memang home range (lintasan gajah), berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL),” katanya.[]

Helmi Abu Bakar El-Langkawi
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar