TERKINI
KAMPUS

Melacak Jejak Makam Teuku Nyak Raja Sang Penembak Jenderal Kohler

BANDA ACEH - Peneliti sejarah Aceh, Nab Bahany, menduga makam Teuku Nyak Raja Imum Luengbata berada di Kompleks Makam Tu Ulee Glee, di Gampong Blang…

MURDANI ABDULLAH Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 6.3K×

BANDA ACEH – Peneliti sejarah Aceh, Nab Bahany, menduga makam Teuku Nyak Raja Imum Luengbata berada di Kompleks Makam Tu Ulee Glee, di Gampong Blang Baroh, Kecamatan Geulumpang Baro, Kemukiman Geulumpang Payong, Kabupaten Pidie. Dugaan Nab Bahany diperkuat dengan berbagai penelitian dari beberapa referensi sejarah yang dibacanya.

Teuku Nyak Raja Imum Luengbata merupakan penembak Jenderal Kohler di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. (Baca: Penembak Jenderal Kohler Itu Bernama Teuku Nyak Raja). Nab Bahany mengaku telah mendatangi langsung kompleks makam tersebut untuk melengkapi penelitiannya tentang Teuku Nyak Raja. 

“Jadi di kompleks itu ada empat makam dengan dua jenis nisan yang berbeda,” kata Nab Bahany kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Senin, 31 Juli 2017.

Dia menyebutkan kondisi kompleks makam ini sangat mengkhawatirkan. Kompleks makam tersebut hanya dipagari dengan kawat berduri, “yang ka meukaratan.”

Namun, Nab Bahany tidak bisa memastikan makam mana yang merupakan nisan milik Teuku Nyak Raja. “Tidak ada inskripsi di batu nisannya,” kata Nab Bahany.

Nab Bahany memperkirakan jarak lokasi makam dengan Jalan Banda Aceh-Medan lebih kurang 8 Km. “Jalannya berkelok-kelok, sangat jauh ke dalam. Ini mengesankan bahwa jenazah beliau memang sengaja disembunyikan dari Belanda,” kata Nab Bahany.

Penulis buku sejarah Aceh ini juga menyebutkan untuk mencapai lokasi makam, dia harus menyewa RBT (ojek). Hal yang melegakan, menurut Nab Bahany, kompleks makam tersebut seringkali menjadi lokasi warga untuk melepas nazar atau kenduri. “Sehingga kompleks makam ini tidak asing bagi warga setempat,” kata Nab Bahany lagi.

“Saya menduga di kompleks makam inilah jasad Teuku Imum Lueng Bata dikebumikan walaupun tidak bisa memastikan yang mana nisan beliau,” katanya seraya menunjukkan beberapa foto nisan yang ada di Kompleks Makam Tu Ulee Glee tersebut.

Portalsatu.com kemudian memverifikasi jenis dan type nisan yang ditunjukkan Nab Bahany kepada Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa), Mizuar Mahdi. Seperti diketahui, Mapesa merupakan komunitas yang intens melacak sejarah melalui batu nisan di Aceh.

“(Dari bentuk) Nisan Aceh abad 18 Masehi. Kedua jenis nisan memiliki periode yang tidak jauh, dan ini memang nisan khas Aceh, type nisan Aceh Darussalam,” ujar Mizuar menjawab pertanyaan portalsatu.com usai menerima kiriman foto di akun WhatsApp.

Mizuar menyebutkan berdasarkan bentuk nisan di kompleks makam tersebut, maka besar kemungkinan makam itu disemayamkan jasad tokoh pembesar istana atau bangsawan di Aceh. “(Nisan milik) tokoh-tokoh istana. Bisa jadi kerabat istana maupun menteri,” kata Mizuar lagi.

Sebagai catatan, Teuku Nyak Raja Imum Lueng Bata merupakan seorang pemimpin kemukiman Lueng Bata atau seorang uleebalang putra Teungku Chik Lueng Bata. Kemukiman Luengbata kala itu dikenal sebagai daerah bibeuh (bebas). Ini pula yang membuat kawasan ini memiliki garis komando langsung ke Sultan Aceh, yang berbeda dengan Sagi XXV, XXVI, dan XXII Mukim. Meskipun demikian, status kedudukan pimpinan kemukiman ini setara dengan panglima tiga sagi lainnya. Berdasarkan referensi sejarah Aceh, Teuku Nyak Raja disebutkan sebagai salah satu pejuang Aceh di masa agresi Belanda era 1873.

Hingga saat ini, belum diketahui apakah sosok Tu Ulee Glee yang berada di Geulumpang Baroh tersebut merupakan Teuku Nyak Raja. Pun demikian, Rizal, aktivis Mapesa lainnya menyebutkan sosok yang dikenal warga sebagai Tu Ulee Glee ini juga pejuang di masa perang melawan Belanda. “Gobnyan syahid di Pante Raja,” kata Rizal, yang juga warga Pidie ini.

Banyak Makam Tokoh Tidak Terawat

Di sisi lain, Nab Bahany menyayangkan banyaknya makam para tokoh sejarah Aceh yang tidak dirawat semestinya oleh pemerintah. Ini termasuk makam Teuku Nyak Raja yang diduga berada di Kompleks Makam Tu Ulee Glee, Gampong Geulumpang Baroh, tersebut. 

Hal senada juga disampaikan Hermansyah, pakar filologi Aceh, yang saat ini tercatat sebagai salah satu dosen di UIN Ar Ranirry Banda Aceh. Hermansyah mengatakan selama ini pemerintah terkesan abai terhadap objek bersejarah termasuk nisan para tokoh kerajaan dan ulama. 

Selain itu, Hermansyah mengatakan, lembaga pemerintah yang mengurus objek bersejarah dan benda cagar budaya juga terkesan malas mencari referensi tentang objek terkait. “Jikapun ada pemugaran yang dilakukan pemerintah hanya sebatas pada objek saja, tetapi tidak mencantumkan literisasi siapa atau apa objek bersejarah tersebut. Saya merasa ini karena kurangnya budaya membaca di tempat kita,” kata Hermansyah, Senin, 31 Juli 2017.

Dia menyebutkan selama ini banyak nisan para ulama dan tokoh kerajaan atau pahlawan perang justru terawat dengan sendirinya karena aktivitas yang dilakukan secara mandiri oleh warga. Misalnya, dia mencontohkan, seperti adanya pelaksanaan kenduri dan melepas nazar di makam-makam para ulama. 

“Ambil sisi positifnya saja, dengan pelaksanaan-pelaksanaan kenduri itu, maka kompleks makam minimal terawat dan hana ditumoh bak naleung,” katanya.

Hermansyah juga mengatakan kondisi abainya pemerintah terhadap makam para pahlawan dan raja-raja serta ulama Aceh itu tidak hanya terjadi di luar ibukota provinsi. Bahkan, kata dia, kondisi nisan para tokoh di Banda Aceh juga mengalami hal serupa.

“Sama tidak terawatnya,” kata Herman yang dibenarkan Nab Bahany.[]

MURDANI ABDULLAH
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar