RASULULLAH Shalla-Llah 'alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya:
“Dua kalimat, ringan di lidah (untuk diucapkan), berat di dalam Mizan Allah, dan paling disukai oleh Yang Maha Penyayang, (yaitu): Maha Suci Allah sembari memuji-Nya; Maha Suci Allah Yang Maha Agung.” (Muttafaq 'alaih)
Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bariy menukilkan Al-Bulqaini: “Dan dua kalimat ini dengan maknanya terdapat dalam penutup doa penghuni syurga, yang artinya:
“Doa mereka di dalamnya ialah: 'Maha Suci Engkau, ya Tuhan kami'; dan salam penghormatan mereka ialah: 'Salam sejahtera'; dan penutup doa mereka ialah: 'Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam'. (Yunus: 10)
Rasulullah Shalla-Llah 'alaihi wa Sallam juga bersabda, yang artinya:
“Barangsiapa mengucapkan Subhana-Llah wa bi hamdihi” (Maha Suci Allah seraya memuji-Nya) dalam sehari seratus kali, niscaya digugurkan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di laut.” (Al-Bukhariy)
Berabad yang lalu, boleh jadi lebih awal dari abad ke-9 Hijriah (ke-15 Masehi), dua kalimat tasbih itu telah dipahat pada jirat di satu tempat nan amat jauh dari tempat turunnya wahyu. Pemahat dan orang-orang yang hidup di tempat itu pada 600-700 tahun yang silam telah meyakini kebesaran dan ketinggian Agama yang menyeru kepada Tauhid dan mensucikan Allah Yang Maha Agung.
Mereka meyakini tasbih akan menghapuskan dosa-dosa.
Mereka juga meyakini dua kalimat tasbih yang diajarkan oleh Rasulullah Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam dalam hadits beliau memiliki nilai yang berat dalam Mizan Allah, dan adalah dua kalimat yang paling disukai oleh Yang Maha Penyayang.
Mereka yakin Tauhid dan mensucikan Allah akan menumbuhkan segala kebaikan, dan karenanya, mereka mengabadikan itu di dada mereka.
.jpg)