Seorang penuntut ilmu harus menjaga adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap guru maupun ahli ilmu. Demikian pentingnya kedudukan adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal-hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah-sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal-hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal-hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.
Dalam pemahaman perkataan di atas sangat pentingnya adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Di samping juga mereka yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih dia perlukan daripada ilmunya yang banyak yang tidak disertai adab. Pemahamannya bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.
Terdapat sebuah cerita menarik yang dikisahkan, pernah pada suatu waktu Imam Syafii menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, Wahai Muhammad (nama Imam Syafii), jadikanlah ilmu engkau bagus dan adab engkau halus.
Berdasarkan kisah tersebut kita apabila ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, integrasi ilmu dan adab memang harus dimiliki, dan tidak boleh dipilih ilmu saja tanpa adab dan etika begitu juga sebaliknya. Melihat fenomena ini sangat patut diapresiasi pesan sebagaimana dituangkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, bunyinya Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik.