TERKINI
NEWS

Perusahaan Nakal Terungkap Menghancurkan Habitat Gajah Sumatera

SAN FRANSISCO - Leuser Watch merilis hasil penyelidikan lapangan mengenai aktivitas perusahaan-perusahaan minyak kelapa sawit nakal. Dalam laporan tersebut, perusahaan pemasok kelapa sawit kepada merk-merk…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 506×

SAN FRANSISCO – Leuser Watch merilis hasil penyelidikan lapangan mengenai aktivitas perusahaan-perusahaan minyak kelapa sawit nakal. Dalam laporan tersebut, perusahaan pemasok kelapa sawit kepada merk-merk besar global terbukti untuk kedua kalinya membuka hutan hujan Ekosistem Leuser yang penting bagi dunia.

Perusahaan kelapa sawit PT. Agra Bumi Niaga (PT. ABN) adalah salah satu perusahaan tersebut. Perusahaan ini terbukti membuka hutan pada laporan Leuser Watch yang dikeluarkan oleh RAN bulan Februari 2017. 

Tiga bulan kemudian citra satelit baru menunjukkan bahwa penggundulan hutan di Kawasan kritis Leuser masih berlanjut. 

Selanjutnya, PT. ABN juga telah membuka hutan yang menjadi habitat vital bagi beberapa kawanan terakhir gajah Sumatra untuk perkebunan kelapa sawit. Perusahaan ini terus membuka lahan meskipun moratorium penebangan hutan untuk pembangunan kelapa sawit baru di seluruh Indonesia telah ditetapkan, termasuk di dalam konsesi yang ada. 

Gambar satelit menunjukkan PT. ABN telah mengurangi luas hutan dari 420 hektar di bulan Juni 2016, hingga hanya tersisa hampir 88 hektar pada bulan April 2017.

Dokumen hasil penyelidikan lapangan menunjukkan bagaimana PT. ABN memasok kelapa sawit dari konsesi miliknya ke pabrik pengolahan kelapa sawit milik PT. Ensem Sawita. Pabrik pengolahan ini termasuk dalam daftar dan peta pemasok yang diterbitkan oleh enam pedagang minyak sawit terbesar di dunia––Wilmar, Musim Mas, Golden Agri-Resources (GAR), Cargill, IOI dan ADM. 
Daftar tersebut menunjukkan PT. Ensem Sawita tercatat ikut memasok minyak kelapa sawit ke kilang yang terdapat di AS, Kanada, dan Eropa, untuk kemudian disalurkan kepada seluruh perusahaan dan merek global terbesar dunia.

Seperti yang telah dilaporkan oleh kantor berita The Guardian, Jumat 21 Juli lalu, perwakilan perusahaan PT. Ensem Sawita telah mengonfirmasi temuan dalam laporan tersebut dan menyesalkan kesalahan yang terjadi, menyatakan telah lalai dalam menyelaraskan informasi perubahan nama menjadi perusahaan penebangan kayu. Namun, perubahan nama ini juga pernah dilaporkan sebelumnya. 

“Jika kami bisa melacak perusahaan-perusahaan ini dengan sumber daya terbatas kami, pastilah perusahaan global berkeuntungan miliaran dollar juga seharusnya dapat melacak perusahaan-perusahaan ini,” kata Gemma Tillack, Direktur Kampanye Agribisnis untuk RAN. 

“Ini masalah prioritas. Apa yang lebih penting bagi mereka, keuntungan atau kelangsungan planet ini?”

Secara mengejutkan, laporan terbaru Leuser Watch ini menunjukkan merek besar dunia seperti PepsiCo, McDonald's, Nestle, Unilever, Kellogg's, Mars, Procter & Gamble serta banyak perusahaan lainnya, terhubung dengan satu aktivitas deforestasi ini, melalui sumber minyak kelapa sawit yang mereka pasok dari perusahaan minyak sawit terbesar di dunia. Perusahaan yang diprofilkan dalam laporan tersebut diyakini memiliki pangsa pasar gabungan kelapa sawit lebih dari 60%.

“Para pengusaha dan banyak merek ini, sudah membuat janji publik bahwa kelapa sawit yang mereka beli dan jual bebas dari deforestasi, pembukaan lahan gambut, maupun eksploitasi,” ujar Tillack. 

Menurutnya fakta perusahaan tersebut berulang kali bergantung pada kerja LSM, seperti RAN, untuk mengungkap isu semacam ini pada rantai pasok mereka sangat tidak bisa diterima. Hal ini menunjukkan perusahaan tersebut tidak menegakkan peraturan moratorium hutan. 

Dia mengatakan nasib Ekosistem Leuser sangat bergantung pada keseimbangan. Sementara perusahaan-perusahaan ini terus memompa minyak kelapa sawit bermasalah ke pasar dunia.

“Konsumen kehilangan kesabaran, integritas dan reputasi merek-merek ini juga dipertaruhkan. Jika tidak ada tindakan yang segera dilakukan untuk menegakkan kebijakan “Nol Deforestasi”, merek-merek ini akan dikenal sebagai perusahaan raksasa yang bertanggung jawab atas kerusakan Ekosistem Leuser, tempat terakhir di dunia di mana gajah, orangutan, badak dan harimau Sumatra hidup berdampingan di alam bebas.”[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar