Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi dimaksud yang islami, yaitu komunikasi berakhlak al-karimah. Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti bersumber kepada Alquran.
Dalam proses komunikasi paling tidak terdapat tiga unsur, yaitu: komunikator, media dan komunikan. Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Dengan pengertian demikian, komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang selekta kapita komunikasi Islam. Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam. Dalam Alquran ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif.
Penulis mencoba menjelaskan komunikasi Islam dalam konteks selekta kapita yang hanya dibatasi pada surah Thaha yaitu qaulan layyina yang berpedoman pada Alquran dengan penjelasan komunikasi, sehingga dapat dipahami dan dimaknai sebagai landasan teoritis sebagai pengembangan ilmu komunikasi Islam. Salah satu bentuk komunikasi Islam dalam Alquran adalah qaulan layyinan. Kata layyina adalah bentuk masdar dari kata lana, yang mempunyai arti lunak, lemas, lemah lembut, halus akhlaknya. Ada juga yang mengartikannya dengan sahlan latifa, yaitu mudah, lemah lembut. Istilah qaulan layyina juga hanya satu kali disebutkan dalam Alquran yang terdapat dalam surah Thaha ayat 44: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut” (QS. Thaha: 44).
Ayat ini memaparkan kisah Nabi Musa a.s., dan Harun a.s., ketika diperintahkan untuk menghadapi Firaun, yaitu agar keduanya berkata kepada Firaun dengan perkataan yang layyin. Asal makna layyin adalah lembut atau gemulai, yang pada mulanya digunakan untuk menunjuk gerakan tubuh. Kemudian kata ini dipinjam (istiârah) untuk menunjukkan perkataan yang lembut.
Sementara yang dimaksud dengan qaul layyin adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan, pemberian contoh. Si pembicara berusaha meyakinkan pihak lain bahwa apa yang disampaikan adalah benar dan rasional, dengan tidak bermaksud merendahkan pendapat atau pandangan orang yang diajak bicara tersebut.
Dengan demikian, qaul layyin adalah salah satu metode dakwah, karena tujuan utama dakwah adalah mengajak orang lain kepada kebenaran, bukan untuk memaksa dan unjuk kekuatan.
Wahbah al-Zuhaily menafsirkan ayat tersebut dengan, Maka katakanlah kepadanya (Firaun) dengan tutur kata yang lemah lembut (penuh persaudaraan) dan manis didengar, tidak menampakkan kekasaran dan nasihatilah dia dengan ucapan yang lemah lembut agar ia lebih tertarik. Karenanya ia akan merasa takut dengan siksa yang yang dijadikan oleh Allah melalui lisanmu. Maksudnya adalah agar Nabi Musa dan Nabi Harun meninggalkan sikap yang kasar.
Ada hal yang menarik untuk dikritisi, misalnya, kenapa Musa a.s., harus berkata lembut padahal Firaun adalah tokoh yang sangat jahat. Menurut al-Razi, ada dua alasan, pertama, sebab Musa pernah dididik dan ditanggung kehidupannya semasa bayi sampai dewasa. Hal ini, merupakan pendidikan bagi setiap orang, yakni bagaimana seharusnya bersikap kepada orang yang telah berjasa besar dalam hidupnya. Kedua, biasanya seorang penguasa yang zalim itu cenderung bersikap lebih kasar dan kejam jika diperlakukan secara kasar dan dirasa tidak menghormatinya.
Nabi Muhammad s.a.w., juga mencotohkan kepada kita bahwa beliau selalu berkata lemah lembut kepada siapa pun, baik kepada keluarganya, kepada kaum muslimin yang telah mengikuti nabi, maupun kepada manusia yang belum beriman. Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan dalam komunikasi Islam, yaitu semaksimal mungkin kita harus menghindari kata-kata yang kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.
Seseorang tidak diperbolehkan untuk bersuara keras yang tidak sepadan dengannya atau yang lebih tua, apalagi jika bergaul dengan orang ramai di tempat umum. Orang yang tidak tahu sopan santun lupa bahwa di tempat itu bukanlah dia berdua dengan temannya itu saja yang duduk. Oleh karena itu, orang yang bersuara keras bukan pada tempatnya diibaratkan sebagai suara keledai yang memekakkan telinga dan sangat tidak disukai manusia. Maka tidak mengherankan jika suara keledai dipandang sebagai suara paling buruk. Dalam Alquran ayat yang berkenaan dengan qaulan layyina terdapat pada surah Luqman ayat 19 Allah s.w.t., berfirman: Sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (Q.S. Luqman: 19).