TERKINI
HEALTH

Hikmah Syawal (VIII) : Mempertahankan “Madrasah” Ramadhan Hingga Syawal

Bulan Syawal merupakan juga bulan ibadah. Kita menginginkan intensi  peningkatan amal shaleh adalah istiqamah (kesinambungan) dalam beribadah, baik  selama Ramadan maupun pasca Ramadan. Hal ini…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 650×

Bulan Syawal merupakan juga bulan ibadah. Kita menginginkan intensi  peningkatan amal shaleh adalah istiqamah (kesinambungan) dalam beribadah, baik  selama Ramadan maupun pasca Ramadan. Hal ini menekankan bahwa ibadah itu bukan hanya pada bulan Ramadan saja. Kita tidak ingin menjadi sosok mukmin sejati itu hanya pada saat bulan Ramadan tiba saja. Padahal  pemahaan kita tuntutan beriman dan bertakwa merupakan sepanjang hayat.

Kita telah menjalani dengan sempurna bulan Ramadhan. Sebuah obsesi terbesar dalam hidup kita dengan  hadirnya Ramadan sebagai sayyidul syahri (penghulu bulan) menjadi momentum terbaik untuk meningkatkan pembendaharaan amal shaleh yang dibarengi dengan berbagai kemuliaan yang dimilikinya.

Bukankah nilai Istiqamah itu sangat penting dalam ibadah dan harus diimplementasikan di segala penjuru nilai ibadah termasuk beragam kebaikan yang telah ditempuh di bulan Ramadhan dan dapat dipertahankan serta diteruskan pasca Ramadhan baik bulan Syawal maupun selanjutnya.

Salah satu bukti kita sukses melewati Ramadhan adalah dengan tetap istiqamah beribadah setelahnya. Dalam hal ini para ulama mengatakan, “Sesunguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”.

Setelah sebulan penuh kita bersungguh-sungguh dalam ibadah di bulan Ramadhan, kita ikuti dan kita jaga ibadah kita dibulan-bulan selanjutnya. Hendaknya kita berusaha istiqamah dalam ibadah. Amalan yang sedikit tetapi istiqamah itu lebih baik dari pada banyak tetapi hanya sesaat. Rasulullah Saw bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim).

Mari kita isi seluruh hidup kita dengan ibadah kepada Allah, beristiqamah dan terus berkontribusi dari satu kebaikan kepada kebaikan yang lain.  Kita bertaqwa kepada Allah kapan pun dan dimana pun kita berada. Jangan sampai kalau di bulan Ramadhan kita menjadi seorang yang begitu dekat dengan ketaqwaan, tetapi di luar Ramadhan malah semakin jauh darinya. Rasulullah bersabda, ”Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa ?dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq ?yang baik”. (HR. Tirmidzi).

Namun di antara fenomena yang kerap terjadi dalam masyarakat dan biasanya di saat Ramadan tiba. Sosok bulan suci Ramadan itu di artikan sekadar ”musim ibadah” tanpa mendalami esensinya. Ramadan di pandanng  sekedar ”formalitas” tanpa eksistensinya. Bahkan Ramadan dirasakan sebagai ’beban spritual’ dan “beban ritual” bukan lahir dari sebuah kecintaan subtasnsial yang mampu mengorbitkan ketaatan dan ketakwaan. Walhasil berimplikasi kepada mimimnya pembedaharaan dan produktifitas  amal ibadah seorang hamba di bulan Ramadan.

Kita berharap dan menginginkan sebagai “alumni” madrasah Ramadhan dapat mempertahankan nilai ibadah yang telah di terpa dan di lakoni di bulan tersebut dapat bertambah atau minimal mempertahankannya dengan sebuah harapan untuk menggapai hidup yang lebih baik kedepan dan di ridhai-Nya. amiin.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar