TERKINI
OASE

Ahmed Hassan Zewail Peraih Nobel yang Tidak Anti-Agama

Ahmed Hassan Zewail menyadari ketertarikannya terhadap ilmu fisika sejak masih muda. Ia kemudian juga menggemari cabang-cabang ilmu serumpun, seperti matematika, mekanika, dan kimia. Zewail mengaku memiliki antusiasme tersendiri saat…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 894×

Ahmed Hassan Zewail menyadari ketertarikannya terhadap ilmu fisika sejak masih muda. Ia kemudian juga menggemari cabang-cabang ilmu serumpun, seperti matematika, mekanika, dan kimia. Zewail mengaku memiliki antusiasme tersendiri saat harus berhadapan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tersebut. 

“Ilmu sosial tidak semenarik itu bagiku, karena saat itu (ilmu sosial) lebih ditekankan kepada penghafalan pada subyek, nama dan sejenisnya, dan untuk alasan-alasan yang tidak saya ketahui. Pikiranku terus menanyakan 'bagaimana' dan 'mengapa',” ujar Zewail, seperti dikutip dalam sebuah pernyataan autobiografi untuk keperluan penghargaan Nobel.

Ketekunannya dalam bidang eksakta itulah yang mengantarnya meraih Nobel. Ia menjari orang Arab pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Yayasan Nobel di Swedia memberikan penghargaan kepada Zewail atas kinerjanya di bidang ilmiah femtochemistry. Zewail merupakan orang pertama yang melakukan percobaan secara jelas dalam menunjukkan saat-saat menentukan pada kehidupan sebutir molekul.

Dengan laser yang dinamakannya femtosecond, Zewail mampu menunjukkan pemecahan dan pembentukan ikatan kimiawi sebuah molekul.

Dengan laser yang dinamakannya femtosecond, Zewail mampu menunjukkan pemecahan dan pembentukan ikatan kimiawi sebuah molekul.

“Hasilnya kerapkali mengejutkan. Berlenggak-lenggoknya atom-atom selama reaksi itu ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang diperkirakan sebelumnya. Penggunaan teknik laser cepat oleh Zewail ini serupa dengan penggunaan teleskop oleh Galileo, diarahkannya terhadap segala sesuatu yang mampu menerangi katup-katup surga,” seperti itulah tertulis pada buku terjemahan berjudul “Perjalanan Melalui Waktu: Jalan-jalan Kehidupan Menuju Hadiah Nobel”. 

Seiring berjalannya waktu, femtochemistry tidak saja dapat diterapkan pada seluruh cabang ilmu kimia, tetapi juga dalam bidang-bidang yang berdekatan seperti ilmu bahan dan biologi.

“Femtochemistry telah mengubah secara drastis cara kita melihat reaksi kimiawi. Kabut ratusan tahun seputar kondisi transisi telah berhasil disapu bersih.” 

Tertarik Sains Sejak Muda

Zewail lahir pada 26 Februari 1946 di Damanhur, Mesir, 160 km ke arah barat laut dari Kairo. Ia berasal dari keluarga kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ibu yang seorang ibu rumah tangga.

Sejak masih kanak-kanak, Zewail sudah gemar melakukan eksperimen kecil-kecilan di kamar tidurnya. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, ia bereksperimen dengan menggunakan peralatan dari kompor milik ibunya dan beberapa tabung gas. Zewail kecil melakukan eksperimen itu untuk mengamati bagaimana kayu dapat diubah menjadi asap dan cairan.

Kegemarannya melakukan penelitian rupanya didukung kedua orang tuanya. Ayah maupun ibunya berharap Zewail kecil bisa menjadi seorang profesor kelak.

Selepas menempuh pendidikan di tingkat SMA, Zewail kuliah di Jurusan Kimia Fakultas Sains Universitas Alexandria, Mesir. Keseriusan Zewail dalam mempelajari kimia semakin nampak, ia lulus pada 1967 dengan predikat cum laude.

“Karena peringkat tinggi yang telah saya capai, maka para profesor kerap turut mengajak saya untuk ikut serta dalam kelompok mereka untuk pekerjaan S2 dan S3 yang sedang saya rencanakan. Saya merasa tertarik dan tergugah oleh penelitian yang sedang dilakukan Dr. Rafat Issa dan Dr. Samir El-Ezaby.”

Bersama kedua sosok itulah, Zewail yang telah berstatuskan sebagai asisten dosen bertekad untuk melakukan penelitian tentang spectroscopy dari beberapa persenyawaan. Adapun spectroscopy sendiri merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara molekul dengan cahaya.

Selanjutnya, Zewail pun memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2 di tempat yang sama saat dirinya berkuliah S1. Setelah berhasil menyelesaikan studi S2-nya, Zewail langsung mendapat kesempatan untuk mewujudkan impian orang tuanya, yakni menjadi seorang profesor, dengan menuntut ilmu di Philadelphia, Amerika Serikat.

Pada 1974, Zewail akhirnya memperoleh predikat sebagai PhD dari University of Pennsylvania di Philadelphia.

Berhubung situasi di Timur Tengah yang sedang dilanda peperangan, Zewail memilih untuk menetap di Amerika Serikat. Tak disangka, keputusannya itu membawanya ke jalan hidup yang mungkin tak pernah dibayangkannya.

Fokus Meneliti Reaksi Kimia

Sebelum akhirnya menjadi dosen di California Institute of Technology pada 1976, Zewail sempat bekerja selama dua tahun sebagai peneliti pascadoktoral di University of Berkeley, California. Sejak menjadi bagian dari California Institute of Technology sebagai profesor di bidang fisika dan kimia, Zewail lantas memfokuskan dirinya sebagai peneliti keadaan transisi reaksi kimia.

“The California Institute of Technology atau Caltech adalah sebuah universitas yang kecil dan bebas. Caltech telah menjadi salah satu universitas penelitian yang utama di dunia. Dua puluh sembilan hadiah Nobel telah dihadiahkan kepada tenaga pengajar atau alumni Caltech.”

Femtochemistry sendiri tidak ditemukan Zewail dalam sekejap. Untuk menangkap keadaan transisi molekul-molekul yang berbeda jenisnya, setidaknya dibutuhkan waktu lebih dari 5 tahun lamanya. Pasalnya beda molekul, berarti beda juga resolusi waktu yang dibutuhkan.

“Dengan menggunakan resolusi waktu sebesar 1010, kita mampu mengamati keadaan transisi itu. Bingkai demi bingkai, dari ikatan kimia antara atom-atom itu dan membuat sebuah film bergerak, yang dalam keadaan kita, paling banyak mengambil waktu sebanyak beberapa picosecond saja.”

Pada intinya, temuan Zewail menangkap hubungan antara waktu dan zat dalam studi dinamika ikatan kimia. “Ketika itu kami yakin sekali bahwa bidang baru femtochemistry akan membuka dunia atom dan molekul untuk sebuah era baru dalam dinamika,” ungkap Zewail.>>> Selengkapnya baca di Tirto.co.id

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar