Ahmed Hassan Zewail menyadari ketertarikannya terhadap ilmu fisika sejak masih muda. Ia kemudian juga menggemari cabang-cabang ilmu serumpun, seperti matematika, mekanika, dan kimia. Zewail mengaku memiliki antusiasme tersendiri saat harus berhadapan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tersebut.
Ilmu sosial tidak semenarik itu bagiku, karena saat itu (ilmu sosial) lebih ditekankan kepada penghafalan pada subyek, nama dan sejenisnya, dan untuk alasan-alasan yang tidak saya ketahui. Pikiranku terus menanyakan 'bagaimana' dan 'mengapa', ujar Zewail, seperti dikutip dalam sebuah pernyataan autobiografi untuk keperluan penghargaan Nobel.
Ketekunannya dalam bidang eksakta itulah yang mengantarnya meraih Nobel. Ia menjari orang Arab pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Yayasan Nobel di Swedia memberikan penghargaan kepada Zewail atas kinerjanya di bidang ilmiah femtochemistry. Zewail merupakan orang pertama yang melakukan percobaan secara jelas dalam menunjukkan saat-saat menentukan pada kehidupan sebutir molekul.
Dengan laser yang dinamakannya femtosecond, Zewail mampu menunjukkan pemecahan dan pembentukan ikatan kimiawi sebuah molekul.
Dengan laser yang dinamakannya femtosecond, Zewail mampu menunjukkan pemecahan dan pembentukan ikatan kimiawi sebuah molekul.
“Hasilnya kerapkali mengejutkan. Berlenggak-lenggoknya atom-atom selama reaksi itu ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang diperkirakan sebelumnya. Penggunaan teknik laser cepat oleh Zewail ini serupa dengan penggunaan teleskop oleh Galileo, diarahkannya terhadap segala sesuatu yang mampu menerangi katup-katup surga,” seperti itulah tertulis pada buku terjemahan berjudul Perjalanan Melalui Waktu: Jalan-jalan Kehidupan Menuju Hadiah Nobel.
Seiring berjalannya waktu, femtochemistry tidak saja dapat diterapkan pada seluruh cabang ilmu kimia, tetapi juga dalam bidang-bidang yang berdekatan seperti ilmu bahan dan biologi.
Femtochemistry telah mengubah secara drastis cara kita melihat reaksi kimiawi. Kabut ratusan tahun seputar kondisi transisi telah berhasil disapu bersih.
Tertarik Sains Sejak Muda
Zewail lahir pada 26 Februari 1946 di Damanhur, Mesir, 160 km ke arah barat laut dari Kairo. Ia berasal dari keluarga kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ibu yang seorang ibu rumah tangga.
Sejak masih kanak-kanak, Zewail sudah gemar melakukan eksperimen kecil-kecilan di kamar tidurnya. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, ia bereksperimen dengan menggunakan peralatan dari kompor milik ibunya dan beberapa tabung gas. Zewail kecil melakukan eksperimen itu untuk mengamati bagaimana kayu dapat diubah menjadi asap dan cairan.
Kegemarannya melakukan penelitian rupanya didukung kedua orang tuanya. Ayah maupun ibunya berharap Zewail kecil bisa menjadi seorang profesor kelak.
Selepas menempuh pendidikan di tingkat SMA, Zewail kuliah di Jurusan Kimia Fakultas Sains Universitas Alexandria, Mesir. Keseriusan Zewail dalam mempelajari kimia semakin nampak, ia lulus pada 1967 dengan predikat cum laude.