ACEH di masa lalu dikenal dengan pusat perdagangan Asia. Hal tersebut disebabkan letaknya yang sangat strategis yaitu di ujung Pulau Sumatra dan diapit oleh Selat Malaka dan Samudera Hindia membuat pulau Weh (Sabang) sebagai pelabuhan bebas yang tidak pernah sepi. Selain Sabang, Aceh juga mempunyai beberapa pelabuhan berstandar internasional lainnya seperti Pelabuhan Krueng Geukuh di Aceh Utara, Pelabuhan Krueng Raya di Aceh Besar dan sebagainya.
Namun, kondisi Aceh sekarang berbanding terbalik dengan masa lalu. Di mana status pelabuhan bebas sudah dicabut pada masa orde baru, begitu juga pelabuhan lainnya yang berada di Aceh. Sehingga pusat perekonomian Aceh beralih ke provinsi tetangga. Padahal beberapa waktu lalu, pemerintah Aceh pernah mencoba menghidupkan pelabuhan Krueng Geukueh. Namun karena sulitnya pengurusan perizinan, juga tidak tersedianya kuota barang untuk dilakukan kegiatan ekspor sehingga tidak ada kepastian jumlah barang dan waktu untuk melakukan aktifitas di pelabuhan.
Oleh karena demikian, dibutuhkan sebuah pusat kontrol distribusi hasil produksi di Aceh, yang sahamnya wajib dipegang oleh Pemerintah Aceh dan pengusaha Aceh. Pusat kontrol distribusi tersebut diharapkan dapat memastikan tersedianya hasil produksi untuk kemudian didistribusikan ke daerah lain bahkan untuk diekspor. Sehingga keberlangsungan kegiatan ekspor impor dapat tercapai.