SEJARAH geutanyoe lagee buku bank. Dari sinan geutanyoe ta teupeu padum harga yang geutinggai lee indatu teuh (Sejarah kita seperti buku bank. Dari sana kita tahu berapa harga pusaka yang ditinggalkan nenek moyang kita), ujar Wali Hasan Tiro kepada para anak didiknya di Kamp Tanjura, Tripoli, Libya suatu ketika. Bek tuho sejarah Aceh, kata Hasan Tiro lagi.
Menurut seorang mantan kombatan GAM alumni Tripoli, dua kalimat ini paling sering diulang oleh Wali Hasan Tiro selama memberi pendidikan tentang Aceh. Kalimat ini juga selalu ditekankan dan diulang-ulang dalam setiap pertemuan.
Seakan Wali ingin kami ingat dan hafal peunutoh tersebut. Seakan ada ketakutan di mata beliau jika kami lupa dengan peunutoh itu. Kami diminta mempelajari sejarah Aceh, ujar mantan kombatan itu lagi. Wali juga minta kami mempelajari sejarah DI/TII agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Seolah Wali tahu bahwa suatu saat para kombatan akan terpecah belah dan ini akan mengakibatkan tujuan perdamaian akan hilang di kemudian hari, kata sosok itu lagi.
+++
Kutipan-kutipan tadi hanyalah pengantar untuk tulisan ini. Dimana, keterangan tersebut menyiratkan bahwa Wali Hasan Tiro benar-benar sangat berharap anak didiknya dan rakyat Aceh tak pernah lupa akan sejarah panjang bangsanya.
Kalimat itu sebenarnya senada dengan konsep tuso droe turi droe yang juga dipopulerkan oleh Wali Hasan Tiro semasa hidup.
Seakan sebelum mengirim pulang para alumni Tripoli ke Aceh untuk berperang, Wali Hasan Tiro berharap mereka bisa memahami secara detail dengan garis, sebab serta dasar perjuangan Aceh yang diembankan. Menguatkan persatuan serta menghindari perpecahan.
Kemudian Wali juga ingin agar anak didiknya tahu apa itu Aceh secara detail? Agama serta karakter masyarakatnya! Kenapa Aceh berkonflik? Serta apa yang diperjuangkan?
Makna dari pesan inilah yang kemudian diteruskan ke para mualimmin (pelatih) serta tentara GAM dalam nanggroe.
Mungkin almarhum Wali Hasan Tiro berharap agar para pejuang Aceh komit dalam perjuangan yang dirintis olehnya, menjaga rekan perjuangan seperti saudara sendiri atau setia, serta tidak melanggar adat, agama dan budaya Aceh selama berjuang. Karena hal-hal inilah yang mengakibatkan perjuangan-perjuangan bangsa di dunia akhirnya kandas di tengah jalan.
Maka untuk mencegah hal ini dan memulai pekerjaan besar, Wali Hasan Tiro memberikan pendidikan ideologi untuk anak didiknya dan masyarakat Aceh.