TERKINI
PROFIL

Amnesia Massal Landa Aceh

“SEJARAH geutanyoe lagee buku bank. Dari sinan geutanyoe ta teupeu padum harga yang geutinggai lee indatu teuh (Sejarah kita seperti buku bank. Dari sana kita tahu berapa…

IHAN NURDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 2.4K×

“SEJARAH geutanyoe lagee buku bank. Dari sinan geutanyoe ta teupeu padum harga yang geutinggai lee indatu teuh (Sejarah kita seperti buku bank. Dari sana kita tahu berapa harga pusaka yang ditinggalkan nenek moyang kita),” ujar Wali Hasan Tiro kepada para anak didiknya di Kamp Tanjura, Tripoli, Libya suatu ketika. “Bek tuho sejarah Aceh,” kata Hasan Tiro lagi.

Menurut seorang mantan kombatan GAM alumni Tripoli, dua kalimat ini paling sering diulang oleh Wali Hasan Tiro selama memberi pendidikan tentang Aceh. Kalimat ini juga selalu ditekankan dan diulang-ulang dalam setiap pertemuan.

“Seakan Wali ingin kami ingat dan hafal peunutoh tersebut. Seakan ada ketakutan di mata beliau jika kami lupa dengan peunutoh itu. Kami diminta mempelajari sejarah Aceh,” ujar mantan kombatan itu lagi. “Wali juga minta kami mempelajari sejarah DI/TII agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Seolah Wali tahu bahwa suatu saat para kombatan akan terpecah belah dan ini akan mengakibatkan tujuan perdamaian akan hilang di kemudian hari,” kata sosok itu lagi.

+++

Kutipan-kutipan tadi hanyalah pengantar untuk tulisan ini. Dimana, keterangan tersebut menyiratkan bahwa Wali Hasan Tiro benar-benar sangat berharap anak didiknya dan rakyat Aceh tak pernah lupa akan sejarah panjang bangsanya.

Kalimat itu sebenarnya senada dengan konsep ‘tuso droe turi droe’ yang juga dipopulerkan oleh Wali Hasan Tiro semasa hidup.

Seakan sebelum mengirim pulang para alumni Tripoli ke Aceh untuk berperang, Wali Hasan Tiro berharap mereka bisa memahami secara detail dengan garis, sebab serta dasar perjuangan Aceh yang diembankan. Menguatkan persatuan serta menghindari perpecahan.

Kemudian Wali juga ingin agar anak didiknya tahu apa itu Aceh secara detail? Agama serta karakter masyarakatnya! Kenapa Aceh berkonflik? Serta apa yang diperjuangkan?

Makna dari pesan inilah yang kemudian diteruskan ke para mualimmin (pelatih) serta tentara GAM dalam nanggroe.

Mungkin almarhum Wali Hasan Tiro berharap agar para pejuang Aceh komit dalam perjuangan yang dirintis olehnya, menjaga rekan perjuangan seperti saudara sendiri atau setia, serta tidak melanggar adat, agama dan budaya Aceh selama berjuang. Karena hal-hal inilah yang mengakibatkan perjuangan-perjuangan bangsa di dunia akhirnya kandas di tengah jalan.

Maka untuk mencegah hal ini dan memulai pekerjaan besar, Wali Hasan Tiro memberikan pendidikan ideologi untuk anak didiknya dan masyarakat Aceh.

Tak hanya untuk eks-Tripoli, jauh hari sebelumnya, Wali Hasan Tiro juga mengirim para utusannya untuk memberikan penerangan kepada masyarakat secara diam-diam.

Tujuannya agar seluruh rakyat Aceh 'tusoe dan turi droe' serta tak melupakan sejarah Aceh. Agar juga tak mengulangi kesalahan di masa lalu. Inilah harapan Wali Hasan Tiro.

Walaupun dalam pelaksanaannya di lapangan, ada banyak hambatan dan tantangan. Namun, pada era tahun 1998 hingga 2002, konsep yang diajarkan oleh Wali Hasan Tiro benar-benar membumi di Aceh. Inilah era kebangkitan ideologi keacehan. Rakyat Aceh mulai bangga dengan indentitasnya, bangga dengan sejarahnya, serta bangga dengan pelaksanaan syariat Islamnya.

Usai perjanjian di Helsinki, Aceh kemudian diberikan sejumlah kewenangan. Namun sayangnya, apa yang dikhawatirkan oleh Wali Hasan Tiro justru terjadi. Mantan pejuang Aceh justru terpecah belah pada pilkada 2007, pemilu 2009, pilkada 2012, pemilu 2014, serta pilkada 2017 lalu. Barisan kombatan terpecah dalam beberapa kelompok.

Keadaan ini kemudian dimanfaatkan oleh ‘lawan’ untuk memisahkan rakyat dengan kelompok pejuang. Dan sejauh ini cukup berhasil.

Perpecahan ini juga mengakibatkan ‘taring’ Aceh dalam menuntut kewenangan sebagaimana yang dijanjikan dalam MoU Helsinki menjadi hilang. Pusat tak lagi khawatir dalam menghilangkan satu persatu pasal dalam UUPA. Perjuangan Aceh puluhan tahun yang digagas oleh Wali Hasan Tiro pun juga terancam kandas di tengah jalan.

Aceh seakan dilanda amnesia massal. Kita lupa dengan sejarah Aceh terdahulu sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Wali Hasan Tiro. Lupa bahwa perpecahan akan membawa kehancuran.

Kini, setelah hampir 12 tahun perdamaian dan melihat rentetan peristiwa yang terjadi, semestinya semua pihak kembali pada harapan Wali Hasan Tiro, yaitu persatuan Aceh dan ideologi keacehan. Hanya kekompakan yang membuat Pusat tak memandang Aceh sebelah mata seperti masa lalu.

Harapan ini terkesan terlalu tinggi dan mustahil, tapi tak ada salahnya dicoba. Seperti kata Wali Hasan, “turi droe tusoe droe. Bek tuhoe keu sejarah.” []

Penulis adalah Murdani Abdullah, Juru Bicara SURA Aceh.

IHAN NURDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar