TATKALA ada kawan mengatakan "peumulia jamee ranup lam puan", aku langsung teringat seumpeuna indatu itu. Perlu diingat, tulisan ini hanyalah humor atau candaan semata. Peumulia…
TATKALA ada kawan mengatakan “peumulia jamee ranup lam puan“, aku langsung teringat seumpeuna indatu itu.
Perlu diingat, tulisan ini hanyalah humor atau candaan semata.
Peumulia jamee ranup lam puan, peumulia rakan mameh suara.
Lalu terpikir olehku, kalau begitu, berapa ton ranup habis untuk menyambut 35 ribu tamu Penas KTNA 2017 di Banda Aceh?
Tentu saja itu tidak ada yang menghitung.
Selain itu, mengingat seumpeuna, Aceh Serambi Mekkah, maka kukira, para tamu itu sudah pergi setengah haji, niscaya mereka tinggal pergi ke Mekkah lalu lengkaplah hajinya, sebab ke Serambinya sudah tiba. Dan, orang-orang luar yang mau naik haji, harus ke Aceh dulu sebelum ke Mekkah.
Terlepas dari itu, tentang ada tamu yang diusir karena bulan lalu si tamu itu mengusir ulama berdakwah di wilayahnya, adalah kasus yang unik.
Uniknya begini. Mekkah adalah tanah haram. Aku baru saja tahu bahwasanya dilarang masuk kafir ke Mekkah.
Oleh karena itu, diusirnya si tamu pengusir ulama itu, sudah menguatkan status Aceh sebagai Serambi Mekkah, karena Aceh tanah haram bagi penghina umat Islam.
Bukankah Mekkah tanah haram. Kalau begitu, Aceh juga tanah haram. Karena cuma serambinya, maka yang diharamkan ke Aceh bukan semua kafir, tapi khusus kafir harbi, yang membenci Islam.
Kalau di Mekkah, kafir mana saja langsung dilarang secara undang undang negara, maka di Serambinya cukuplah melarang masuk kafir yang mengasari umat Islam, apalagi ia pernah mengusir ulama.
Sekali lagi, pandangan ini dari sudut pandang humor, bukan secara ilmiah. Pandangan ilmiah akan kutulis dalam kesempatan lain, jika perlu.
Sekali lagi, berapa ton ranup habis saat peumulia jamee Penas 2017 di Banda Aceh? Tanya panitia.[]