PARTAI Aceh (PA) adalah satu-satunya partai politik dengan kekuatan militan di Republik Indonesia dan memiliki ideologi khusus, disebabkan didirikan oleh para ekskombatan GAM, berdasarkan…
PARTAI Aceh (PA) adalah satu-satunya partai politik dengan kekuatan militan di Republik Indonesia dan memiliki ideologi khusus, disebabkan didirikan oleh para ekskombatan GAM, berdasarkan hasil perjanjian damai MoU Helsinki 2005 dan turunannya UU RI Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).
Akan tetapi, walaupun para pendirinya adalah mereka yang sebelumnya telah bersedia mengambil risiko kematian untuk martabat Aceh, namun partai ini lebih banyak dikritik daripada dibela.
Pengkerdilan untuk Partai Aceh terus-menerus dilakukan, terutama oleh orang yang menganggap dirinya pandai dan berpendidikan, sementara mereka sendiri adalah para mafia intelektual yang tidak pernah memikirkan untuk kebaikan Aceh.
Saya pernah mengkritisi sikap mereka tersebut, yang kuanggap karena iri, takut orang lain terlihat lebih mampu daripada diri mereka. Tentu saja, kritikanku terhadap buruknya sangka mereka pada PA menimbulkan perdebatan panjang. Namun, sebagaimana biasanya, dalam perdebatan umum, akulah yang menang.
Namun itu perkara tersendiri, bahwa ada pihak yang memburukkan PA karena iri, dan bersamaan dengan itu di dalam tubuh Partai Aceh sendiri juga ada orang-orang seperti itu, yang sok tahu dan memburukkan orang lain supaya terlihat dirinya lebih hebat, sehingga PA tidak berhasil mempertahankan hegemoninya, setelah sepuluh tahun.
Aku menuliskan ini karena sudah tidak mungkin lagi untuk menundanya. Kalau dulu, walaupun orang mengkritisi bahkan memfitnah PA dan ekskombatan, tetapi gubernur Aceh dari PA dan sebagian besar bupati dan wali kota di Aceh dari PA, serta anggota DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) dan DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota) seluruh Aceh sebagian besar orang PA.
Dengan keadaan PA masih unggul dalam politik begitu sebelum ini, aku yang tidak suka pada tingkah laku sebagian anggota PA yang hanya memikirkan diri mereka sendiri seperti anggota partai lain, tidak akan membela partai ini. Akan tetapi, setelah gubernur dukungan PA kalah pada Maret 2017, ceritanya menjadi lain.
Aku berpikir, sekiranya aku tidak membela ekskombatan termasuk PA sekarang, maka akan terjadi hal yang tragis, yakni pihak pembenci akan semakin memfitnah ekskombatan dan PA. Aku akan mencegah itu karena para pencaci itu tidak memisahkan masalah, mereka megeneralisasikan, yang tentu saja aku akan diangap dalam kelompok tersebut. Mereka harus dibalas, kejahatan intelektual itu harus dihentikan.
Aku tidak bicara tentang politik selama masa kampanye pilkada supaya tidak ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan karenanya. Sekaligus, aku ingin melihat bahwasanya kesalahan anggota PA akan membawa kerugian besar pada partai ini. Selain itu aku tidak bicara politik saat itu, karena kalaupun aku bicara tidak akan dianggap ada pun oleh yang diuntungkan (PA) dan tentu saja aku akan dibenci oleh musuh mereka. Sementara, aku bukan bagian dari itu.
Sementara aku tidak pernah mengambil keuntungan apapun dari keberadaan PA, malah yang mengambil untung itu adalah para oportunis (pengambil kesempatan) yang menjilat dan merusak PA dari dalam, selain dari para oportunis itu memang para pejuang yang tulus. Itulah masalahnya. Dan kukira kalau aku sudah membela ekskombatan dan PA, para pencaci itu akan kesulitan dan sebagian besar akan berhenti, karena aku tahu kebusukan mereka.
Kini, setelah gubernur yang dicalonkan oleh PA kalah, baru aku bicara politik yang membela ekskombatan dan PA karena menurut perkiraanku akan didengar oleh rekan ekskomnbatan atau KPA (Komite Peralihan Aceh) disebabkan telah terbukti rasa percaya diri terlalu tinggi yang disertai menyakiti perasanmasyarakat telah menghukum PA dengan kalahnya calon gubernur yang diandalkan. Aku, sebagai ekskombatan, merasa sedih karenanya.
Namun kita tidak bisa melawan takdir. Sebelum ini, tahun-tahun lalu, ada juga sesekali aku menulis tentang perkembangan politik dan saran bagaimana supaya PA bisa terus mendapatkan hegemoni. Dan, itu tidak didengar karena para pembisik di sekeliling petinggi PA masih terlalu angkuh untuk percaya saran orang lain supaya mereka terus mendapatkan kepercayaan pimpinan dengan menjilat–inilah salah satu penyebab calon gubernur dari PA kalah tahun 2017.
Bukan, bukan itu yang ingin kusampaikan. Itu hanyalah pelengkap cerita pembuka. Yang ingin keusampaikan adalah tentang PA sekarang, dan bagaimana supaya menjadi partai ini menjadi paling kuat di Aceh lagi walaupun banyak partai nasional di Aceh, walaupun ada partai lokal lain, walaupun ada koalisi mereka. Tidak akan ada pengaruhnya, jika PA melakukan sesuatu, lebih dari sesuatu.
Dan, inilah yang kusampaikan di sini, cara-cara untuk itu. Jika ada yang berpikir, strategi bukankah harus dirahasiakan supaya tidak dicuri atau diatasi oleh pihak lawan? Kalau strategi orang lain, mungkin, tapi tidak dengan strategi ini. Ini disebabkan PA memiliki keunikan yang tidak mungkin ditiru oleh partai politik manapun di Indonesia.
Inilah beberapa hal yang harus dilakukan oleh Partai Aceh.
Pertama: jangan pecat siapapun lagi dari PA walaupun orang itu telah melanggar. Kita sudah terlalu banyak kehilangan orang-orang hebat dari PA. Kedua, serukan kepada seluruh ekskombatan untuk mendukung kembali PA walaupun sebelum ini mereka telah berada di pihak lain. Ketiga, mintalah maaf pada rakyat terhadap kesalahan-kesalahan baik sebelum atau sesudah perdamaian.
Keempat, buatlah pertemuan rutin dengan para intelektual dari semua bidang, walaupun sebagian mereka berada di partai lain. Kelima, didiklah generasi muda di kampus dan sekolah tentang sejarah Aceh. Datangi mereka. Kelima hal ini, tidak mungkin dilakukan oleh partai lain, ibarat kawanan lapoh (kancil) yang tigak mungkin mengumpulkan kawanan srigala. Hanya srigala yang bisa melakukannya.
Hanya KPA dan PA yang bisa meminta maaf pada rakyat Aceh atas kesalahan mereka sendiri. Hanya KPA dan PA yang bisa mendidik generasi muda Aceh untuk sejarah dan perjuangan, yang kini Aceh berada dalam bingkai NKRI. Mari, siapapun pemegang KTP Aceh, jadikan KPA dan PA kita berjaya. Banda Aceh, 30 April 2017.[]
Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan dan politik, penulis novel Aceh 2025.