"Aku, Biyayaa Soora (?) putra Seribiayayaa (saya--Taqiyuddin Muhammad--belum dapat mengidentifikasi tokoh ini), Pracama de Raja (Paduka Raja?), yang demi kehormatan dirinya, maka karunia Sultan Agung…
“Aku, Biyayaa Soora (?) putra Seribiayayaa (saya–Taqiyuddin Muhammad–belum dapat mengidentifikasi tokoh ini), Pracama de Raja (Paduka Raja?), yang demi kehormatan dirinya, maka karunia Sultan Agung 'Alauddin telah disimpan jauh dalam peti-peti emas permata dalam bentuk dian yang diharumkan butir-butir kemenyan dari Baitullah di Makkah. Raja Aceh dan penguasa tanah negeri dari laut ke laut, dengan ini, memberitahukan kepadamu untuk kemudian agar kausampaikan kepada rajamu di laut ini, di mana aku datang berlabuh, untuk menghantui bentengnya dengan kekuatanku. Aku bermaksud untuk terus “menangkap ikan” di sini selama aku suka, tanpa memperdulikan dia, meski apapun yang terjadi. Dan, untuk membuktikan kebenaran kata-kataku, maka aku mengambil alih kekuasaan atas tanah ini dan segenap penghuninya serta seluruh unsur di atasnya sampai ke langit. Lain dari itu…'
– Diterjemahkan oleh Taqiyuddin Muhammad dari Halaman 264 “Peregrinação” oleh Fernão Mendes Pinto (1583) yang diterbitkan pada 1614 memuat ultimatum yang diarahkan Aceh Darussalam kepada Portugis di Malaka.
Ini Halaman tersbut. @Mapesaaceh.com
.jpg)
Dari isi surat tersebut terlihat bahwasanya betapa percaya diri dan berkuasanya Kesultanan Aceh Darussalam saat itu. Kalimat semacam ini hanya mampu dikeluarkan oleh seorang panglima atau juru bicara kesultanan yang memiliki peradaban tinggi dan jumlah tentara terlatih dan banyak dengan persenjataan lengkap, dan menguasai beberapa buah negeri dan samudra. Pada masa itu seluruh Pulau Sumatra menjadi wilayah Aceh Darussalam.
Orang yang mengeluarkan pernyataan (ultimatum) kepada Portugal (Portugis) tersebut ialah laksamana dan panglima perang di masa yang mulia Sultan Alauddin Al Kahar. Sultan Alauddin Al Kahar ialah pemimpin Aceh Darussalam yang mengirim utusan ke Istanbul untuk bekerjasama bidang kemiliteran dengan Kesultanan Turki Usmani. Kafilah yang dikirimnya tersebut kemudian dikenal dengan kafilah Lada Sicupak.
Tentang yang mulia Sultan Al Kahar, silakan dibaca tulisan lengkap di mapesaaceh.com.[]