PAGI itu, dari Simpang 4 Paloh, aku berjalan kaki ke Paloh Dayah. Sekira satu kilometer, sampai di masjid Assa'asah Teungku Chik Di Paloh, di tengah Gampong Paloh Dayah, Lhokseumawe. Terdengar di mikrofon, Tgk Nazar tengah membaca surat Alkahfi.
Sudah lama tidak kulihat dan salat di masjid ini. Kubahnya sudah siap, dan lantainya sudah dibeton, walaupun belum dipasang keramik.
Masjid ini termasuk masjid yang paling cepat selesai dibangun, karena orang-orang menghormati Teungku Chik Di Paloh. Lebih banyak wakaf orang dari luar Paloh Dayah yang mewawafkan hartanya untuk membangun masjid ini, selain tanah tempat berdirinya.
Nama besar Teungku Chik Di Paloh memanggil kami untuk membangun masjid ini. Di dekat berdirinya masjid ini, dahulunya, Teungku Chik Di Paloh pernah membangun sebuah masjid. Sekarang tinggal tanah bekasnya, di pemakaman umum di barat masjid sekarang.
Ide membangun masjid ini, awalnya dari Teungku Sulaiman bin Dadeh. Ia mewaqafkan sepetak tanahnya di tengah Gampong. Saat itu tidak ada seorang pun lain yang berpikir bahwa membangun lagi sebuah masjid di Paloh Dayah adalah sesuatu yang mungkin dan diperlukan.
Namun, sekira dua puluh tahun setelahnya, sekira pada tahun 2006, beberapa orang mulai berpikir bahwasanya masjid yang direncanakan oleh Sulaiman Dadeh perlu segera dibangun, lagi pula dasar tanahnya sudah ada.
Orang-orang yang bergerak saat itu adalah Teungku Nazaruddin Sabi, Teungku Muhammad Amin, Tarmizi Risyad, Jamaluddin Ibrahim, Zainal Abidin Ahmad, dan aku sendiri. Rapat pertama itu di rumah Teungku Muhammad Amin. Teungku Nazaruddin Sabi orang pertama yang mewaqafkan uangnya, Rp 50 ribu, digunakan untuk membuat stempel oleh Teungku Muhammad Amin.
Setelah itu dibuat rapat umum, masyarakat pun setuju. Beberapa orang tetap tidak setuju termasuk orang yang sekarang telah menjadi pengurus pembangunan masjid itu.
Orang ini, ketika melihat masjid sudah ada tapak atau pondasinya, membuat beberapa trik, dan ketua pembangunan yang diangkat oleh panitia awal, yaitu Zainal Abidin Ahmad pun mundur. Maka naiklah sebagai ketua orang yang dahulunya menolak dibangun masjid itu. Para panitia awal, sebagian besar tidak lagi terlibat di dalam kepanitiaan pembangunan masjid ini.