TERKINI
NEWS

Mulyadi Nurdin: Gubernur Minta Masyarakat Melindungi Nisan Aceh

BANDA ACEH - Karo Humas dan Protokoler Setda Aceh, H Mulyadi Nurdin, dan sambutannya, mengatakan, dalam draf Pergub batu nisan Aceh yang tengah disiapkan, pemerintah…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 773×

BANDA ACEH – Karo Humas dan Protokoler Setda Aceh, H Mulyadi Nurdin, dan sambutannya, mengatakan, dalam draf Pergub batu nisan Aceh yang tengah disiapkan, pemerintah mengatur penyelamatan batu nisan Aceh.

Hal itu disampaikan Mulyadi Nurdin dalam konferensi pers bertajuk “Pentingnya Batu Nisan Aceh untuk Didaftarkan di UNESCO”, di bawah Rumoh Aceh, UPTD Museum Aceh, Banda Aceh, Senin, 20 Maret 2017, pukul 10:00 WIB.

“Untuk yang sudah terlanjur terjadi, pemerintah tidak akan menghukum masyarakat yang terlajur mendirikan bangunan di atas makan lama sebelum ini, disebabkan ketidaktahuan. Mulai sekarang, kami harapkan kepada masyarakat untuk melindungi batu nisan Aceh supaya bukti peradaban Islam tersebut terus ada, itu penting,” kata Mulyadi dalam acara yang dihadiri para jurnalis dari berbagai media cetak dan elektronik yang ada di Banda Aceh.

Gubernur Zaini, kata Mulyadi, sudah memerintahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk membentuk tim cagar budaya untuk mendaftarkan batu nisan Aceh ke UNESCO, serta membuat draf Pergub untuk itu.

“Bapak Gubernur baru pekan lalu mendapatkan laporan tentang pentingnya batu nisan Aceh dan mendesak harus diselamatkan. Begitu mengetahui hal itu, beliau langsung menindaklanjuti, karena ini ada identitas Aceh,” kata Mulyadi Nurdin dalam acara yang dipandu Almuniza Kamal dari Museum Aceh.

Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Islam Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, dalam materinya mengatakan, masyarakat dan pemerintah perlu memperbaiki mata pelajaran di sekolah-sekolah di Aceh.

“Keberadaan sejarah Aceh yang telah memberikan begitu banyak sumbangan untuk dunia Islam harus diketahui generasi muda, harus masuk kurikulum sekolah, dan batu nisan Aceh merupakan bukti otentik sejarah yang penting itu,” kata Taqiyuddin.

Selain Mulyadi Nurdin dan Taqiyuddin Muhammad, sebagai pembicara turut hadir arkeolog Dr Husaini Ibrahim dari Unsyiah, Kepala BPCB Aceh, kabid sejarah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, aktivis kebudayaan Thayeb Loh Angen.[]

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar