TERKINI
NEWS

Husaini Ibrahim: Kita Daftarkan Benda Dulu Baru Kawasan

BANDA ACEH - Arkeolog Dr Husaini Ibrahim, mengatakan, batu nisan Aceh tersebar seluruh Sumatra, seluruh nusantara, termasuk semenanjung Malaysia dan Patani Selatan Thailand. Hal itu…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

BANDA ACEH – Arkeolog Dr Husaini Ibrahim, mengatakan, batu nisan Aceh tersebar seluruh Sumatra, seluruh nusantara, termasuk semenanjung Malaysia dan Patani Selatan Thailand.

Hal itu disampaikan Husaini Ibrahim dalam konferensi pers bertajuk “Pentingnya Batu Nisan Aceh untuk Didaftarkan di UNESCO”, di bawah Rumoh Aceh, UPTD Museum Aceh, Banda Aceh, Senin, 20 Maret 2017, pukul 10:00 WIB.

“Karenanya, yang perlu didaftarkan adalah benda dan kawasan. Sebaran batu nisan Aceh itu belum terdata, maka benda yang pertama kali harus didaftarkan ke UNESCO, setelah itu baru kawasan,” kata Husaini.

Karo Humas dan Protokoler Setda Aceh, H Mulyadi Nurdin, dan sambutannya, mengatakan, dalam draf Pergub batu nisan Aceh yang tengah disiapkan, pemerintah mengatur penyelamatan batu nisan Aceh.

“Namun untuk yang sudah terlanjur terjadi, pemerintah tidak akan menghukum masyarakat yang terlajur mendirikan bangunan di atas makan lama sebelum ini, disebabkan ketidaktahuan. Mulai sekarang, kami harapkan kepada masyarakat untuk melindungi batu nisan Aceh supaya bukti peradaban Islam tersebut terus ada, itu penting,” kata Mulyadi dalam acara yang dihadiri para jurnalis dari berbagai media cetak dan elektronik yang ada di Banda Aceh.

Gubernur Zaini, kata Mulyadi, sudah memerintahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk membentuk tim cagar budaya untuk mendaftarkan batu nisan Aceh ke UNESCO, serta membuat draf Pergub untuk itu.

“Gubernur baru pekan lalu mendapatkan laporan tentang pentingnya batu nisan Aceh dan mendesak harus diselamatkan. Begitu mengetahui hal itu, beliau langsung menindaklanjuti, karena ini ada identitas Aceh,” kata Mulyadi Nurdin dalam acara yang dipandu Almuniza Kamal dari Museum Aceh.

Selain Husaini Ibrahim dan Mulyadi, sebagai pembicara turut hadir Peneliti Taqiyuddin Muhammad dari Mapesa, Kepala BPCB Aceh, kabid sejarah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, aktivis kebudayaan Thayeb Loh Angen.[]

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar