TERKINI
NEWS

Cerita Zaini Djalil tentang Kekalahan Nasdem di Pilgub Aceh

BANDA ACEH - Ketua Partai Nasdem Aceh, Zaini Djalil mengatakan bahwa hasil Pilkada di Aceh sangat tak terduga. Ada pasangan yang dianggap akan menang malah hasilnya…

ADI GONDRONG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.6K×

BANDA ACEH – Ketua Partai Nasdem Aceh, Zaini Djalil mengatakan bahwa hasil Pilkada di Aceh sangat tak terduga. Ada pasangan yang dianggap akan menang malah hasilnya tidak demikian. 

Dalam konferensi pers di Hotel Oasis terkait penjaringan bakal caleg Nasdem, ia pun menceritakan keadaan kejadian di balik layar Partai Nasdem. Mulai dari perubahan wakil Tarmizi Karim sampai pertemuan Surya Paloh dan Muzakir Manaf di detik akhir pemilihan. 

“Politik itu sangat dinamis. Apa pun bisa terjadi,” kata Zaini Djalil, yang pernah didapuk berpasangan bersama Tarmizi Karim dalam Pilkada 2017 kemarin, sebelum posisinya digeser politisi Golkar, Machsalmina Ali.

Ia mengatakan pergantian tersebut atas berbagai pertimbangan politik dan pertimbangan lainnya. Ia pun mengatakan tidak keberatan dengan pergantian tersebut karena memang pada awalnya ia tidak punya niat besar untuk maju dalam Pilkada 2017. 

Zaini pun membantah Partai Nasdem Aceh tidak bekerja maksimal dalam memenangkan pasangan Tarmizi Karim – Maksalmina Ali, akibat posisi dirinya yang diganti. Ia mengatakan Nasdem tetap bekerja maksimal secara profesional dalam Pilgub Aceh 2017 lalu.

“Tidak benar kalau Nasdem bekerja tidak maksimal. Kalau pun ada perbedaan di beberapa kader, itu adalah hal yang tidak diduga,” kata dia. 

Zaini juga menjelaskan bahwa bukti Nasdem profesional dalam mengusung calon adalah tidak terjadinya penarikan dukungan kepada Tarmizi. Nasdem mengusung dan memenangkan Tarmizi dari awal sampai akhir. 

“Meskipun ada partai yang menarik dukungannya, apa yang terjadi? Usungan Nasdem tidak berubah,” kata dia. 

Sedangkan terkait dengan pertemuan Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh dengan kandidat nomor urut 5 Muzakir Manaf adalah sebuah pertemuan biasa. 

“Kami mengusung calon A bukan berarti kami bermusuhan dengan calon B,” kata dia.[]

ADI GONDRONG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar