TERKINI
NEWS

Janda Lima Anak Hamamah, Bertahan Hidup dari Pinang dan Sawah

LHOKSUKON - "Kadang hana aneuk mit pet, kakeuh tachet keudroe teuh ngen kaye. Kadang sampo rhet ateuh jumoh teuh (terkadang tidak ada anak-anak yang memetik,…

SUDIRMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 662×

LHOKSUKON – “Kadang hana aneuk mit pet, kakeuh tachet keudroe teuh ngen kaye. Kadang sampo rhet ateuh jumoh teuh (terkadang tidak ada anak-anak yang memetik, ya sudah saya petik sendiri dengan galah. Terkadang sampai jatuh ke muka),” ujar Hamamah, 50 tahun, sambil tertawa kala menceritakan pengalamannya memetik buah pinang.

Ditemui portalsatu.com, Jumat, 6 Januari 2017, janda lima anak itu menyebutkan, ia biasa menjual pinang hasil kebunnya dalam kondisi basah.

“Han ek ta adee, hek teuh manteng, jadi loen publoe basah. Biasa jih loen peu upah pet bak aneuk miet. Sibak pineung limong ribe rupia (tidak sanggup saya jemur, capek saja, jadi saya jual basah. Biasanya saya upah anak-anak untuk memetik. Satu batang pinang Rp 5 ribu),” ucap warga Gampong Merboe LT, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara itu.

Kata Hamamah, hasil kebun pinangnya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari dan pendidikan anak. Kebun itu merupakan harta peninggalan almarhum suaminya karena sesak napas 11 tahun silam. Selain berkebun pinang, ia juga turun ke sawah.

Lanjutnya, saat ini kondisi rumah sudah tidak layak. Bagian belakang rumah, atap sudah bocor.

“Bubong dapu rumoh ka tireh, menyoe ujeun sit jeut then embe. Tapi kiban tapeuget teuma, hana peng ngen ta rehab. Peng publoe pineung kadang meurumpok seuretoh ribe, kadang seretoh limong ploh ribe. Tapi nyan pih dua buleun sige. Wate loen plah pineng dituloeng le anek ngen syedara (atap dapur rumah sudah bocor, jika hujan bisa tampung air dengan ember. Tapi mau bagaimana lagi, tidak punya uang untuk merehab. Uang hasil jual pinang terkadang dapat Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Tapi itupun dua bulan sekali. Saya membelah pinang dibantu anak dan keluarga),” ucap Hamamah.

Saat ini dirinya hanya fokus pada pendidikan satu anaknya, Herawati, 16 tahun, kelas II SMA Negeri 1 Lhoksukon.

Nyang penteng si dara beu luloh sikula ile (yang penting si gadis lulus sekolah dulu),” tutup Hamamah yang juga ikut menjadi korban banjir di Lhoksukon.[]

SUDIRMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar