JAKARTA — Kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang berlainan. Pada waktu Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad ke-7 dan abad ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur.
W P Groeneveldt dalam Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source menjelaskan, berita Cina zaman T'ang, pada abad-abad tersebut menduga masyarakat Muslim telah ada, baik di kanfu (kanton) maupun di daerah Sumatra sendiri.
(Baca: Peran Kerajaan dalam Dakwah Islam di Jawa)
Dari abad ke-7 sampai abad ke 12, Kerajaan Sriwijaya masih mengalami kemajuan di bidang politik dan ekonomi. Tetapi, sejak akhir abad ke 12 Kerajaan Sriwijaya telah menujukkan kemundurannya.
Masih menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, tanda-tanda kemunduran Sriwijaya di bidang perdagangan mungkin dapat dihubungkan dengan berita Chou Ku-Fei pada 1178.
Dalam catatan Ling-wai-tai-ta yang menceritakan bahwa persedian barang-barang perdagangan di Sriwijaya mahal-mahal karena negeri itu tidak lagi menghasilkan banyak hasil alam.
Kemunduran di bidang perdagangan dan politik Kerajaan Sriwijaya itu dipercepat pula oleh usaha-usaha kerajaan Singasari di Jawa yang mulai mengadakan ekspedisi Pamalayu pada 1275.
Sejalan dengan kelemahan yang dialami Kerajaan Sriwijaya, pedagang-pedagang Muslim yang mungkin disertai pula oleh mubaligh-mubalighnya lebih berkesempatan untuk mendapatkan keuntungan dagang dan keuntungan politik.
Mereka menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul dan yang menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samudra Pasai. Kerajaan ini berada di pesisir timur laut Aceh atau Aceh Utara kini. Muculnya daerah tersebut sebagai kerajaan Islam yang pertama di Indonesia diperkirakan mulai abad ke-13.