TERKINI
GAYA

Ingat Mati Ala Sufi

Di antara nilai yang ditonjolkan dalam gerakan tarian ini adalah untuk mengingatkan kita kepada kematian.

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 6 menit
SUDAH DIBACA 2.4K×

*Helmi Abu Bakar el-langkawi

Kematian merupakan akhir dari sebuah kehidupan dunia dan pintu gerbang menuju akhirat. Rasulullah dalam banyak hadis menganjurkan kita merenungi maut (kematian), seperti dalam sabdanya, “Perbanyaklah  mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan(kematian).” (HR. At-Tirmidzi). Dalam hadis yang lain beliau juga bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas (HR. Ibnu Majah no. 4259).

Islam sebagai agama universal, di samping dalam ajarannya diajarkan etika, juga diajarkan estetika dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Salah satu estetika yang dimaksud adalah menerjemahkan kematian sebagaimana yang diajarkan oleh Syekh Jalaluddin Ar-Rumi lewat tarekat Maulawiyah yang dikenal dengan nama Tarian Sufi.

Syekh Ar- Rumi lahir di Balkh (Afganistan) pada 6 Rabiul Awal, 604 Hijriah, atau 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Ibunya berasal dari keluarga Kerajaan Khwarazm, keturunan Ali bin Abi Thalib.

Syekh Jalaluddin Ar-Rumi merupakan sosok ulama pencetus lahirnya tarekat Maulawiyah. Dalam implementasinya tarekat ini dilakukan dengan gerak-gerik yang berputar disertai zikir dan alunan musik. Tarian ini dikenal di belahan dunia Barat dengan nama “The Whirling Darvishes”, sedangkan di dunia Timur disebut sama’/sema (mendengar). Di antara nilai yang ditonjolkan dalam gerakan tarian ini adalah untuk mengingatkan kita kepada kematian.

Sebelum terjun ke dunia sufistik, Syekh ar-Rumi terkenal sebagai teolog yang andal pada masanya. Namun, setelah bertemu dengan Syams al-Din Tabrizi pada 1244 M, jalan hidup Syekh Rumi berubah menjadi seorang penyair sufi yang sangat terkemuka.

Hal itu dilukiskan dalam bait syairnya, “Hasratku pada Sang Kekasih telah membawaku terbang  melintasi samudera ilmu dan keluasan Alquran. Aku menjadi gila. Kutelusuri bentangan sajadah dan masjid dengan segenap hasrat dan kekhusyukan. Kukenakan pakaian pertapa untuk memperkaya kebajikan. Cinta menghampiriku, dan berkata ”Wahai sang Guru, lepaskan dirimu! Mengapa kau terpaut pada sajadah? Tidakkah kau ingin hati mu bergetar di hadapan-Ku! Tidakkah kau ingin melampaui pengetahuan dengan penglihatan? Maka tundukan kepalamu..”. (Aflaki, Menaqib Al-Arfian, h. 20.)

Syekh Ar-Rumi mewariskan pemikiran spiritual yang banyak menginspirasi umat Islam. The Whirling Darvishes salah satu inspirasi yang ditinggalkan Rumi yang merupakan paduan warna dari tradisi, sejarah, religi, dan budaya Turki.

Dalam persepsi ar-Rumi kondisi dasar semua yang ada di dunia ini adalah berputar. Tidak ada satu benda dan makhluk yang tidak berputar. Keadaan ini diakibatkan oleh  perputaran elektron, proton, dan neutron dalam atom merupakan partikel terkecil penyusun semua benda.

Ar-Rumi mengibaratkan perputaran partikel tersebut sama halnya dengan perputaran jalan hidup manusia dan perputaran bumi. Prosesi kehidupan manusia mengalami perputaran, dari ‘adam (tidak ada), menjadi wujud (ada), kemudian kembali menjadi ‘adam.

Manusia merupakan makhluk ahsanu at-taqwim (sebaik-baik bentuk) yang dibekali akal dan kecerdasan membuatnya berbeda dan lebih utama dari makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Tarian Sema didominasi gerakan berputar-putar. Meskipun telah banyak dimainkan oleh tarekat sufi, tarian ini telah menjadi ciri khas dasar bagi tarekat al-Maulawiyah. Tarian suci ini dimainkan oleh para Darwish dalam pertemuan-pertemuan atau majelis sebagai dukungan eksternal terhadap upacara-upacara (ritual mereka).

Implementasi dari tarekat ini, menurut Mulyadi Kartanegara, dalam bukunya “Tarekat Mawlawiyah Tarekat Kelahiran Turki,” dengan mengutip pendapat Talat Sait dan Metin And, Profesor terkemuka di Universitas Ankara, tarian ini dimulai dengan membungkukkan badan yang dimulai oleh para Darwisy kepada pemimpinnya untuk mendapat restu.

Pada mulanya tangan mereka bersilang dan ditempelkan ke dada dengan posisi tangan mencengkeram bahu, lalu tangan mereka mulai terangkat. Kaki-kaki mereka mulai merapat, pada tahap awal mereka bergerak sangat lambat. Namun, secara perlahan tangan mereka meninggalkan bahu dan berangsur-angsur merentang lurus dan membentuk posisi horizontal.

Tangan kanan mereka berlalu sambil menengadah dengan telapak tangan ke atas, sedangkan tangan kiri diturunkan ke bawah. Posisi tersebut secara simbolik menggambarkan pengaruh dari langit yang diterima dengan telapak tangan terbuka dari atas, diteruskan ke bawah menuju dunia oleh tangan yang lain.

Kadangkala satu tangan dibuka dan tangan lain menekan ke dada. Para Darwisy berputar-putar dengan bertumpu secara bergantian pada tumit, sedangkan kaki yang lain mengupayakan untuk berputar. Mata mereka tampak sayu atau tertutup dan kepala mereka sedikit condong pada salah satu pundak.

Semakin mereka mempercepat putaran, rok putih mereka seperti payung yang terbuka. Tarian ini dipimpin oleh Sama’ Zembasi (pemimpin tarian sufi), beliau yang memberikan aba-aba dan tidak mengikuti tarian.

Nasr mengatakan, tarian Mawlawi dimulai dengan nostalgia dengan Tuhan, lalu berkembang sedikit demi sedikit menjadi keterbukaan limpahan rahmat dari surga, dan akhirnya menghasilkan fana dan penyatuan ke dalam diri Sang Kebenaran. (Mulyadhi Kartanegara, Tarekat Mawlawiyah Tarekat Kelahiran Turki, h. 330.)

Tarian tersebut mempunyai filosofi tersendiri, tetapi sebagian orang terlupakan untuk mengambil ibrah (pelajaran). Peci yang dipakai oleh penari berbentuk lonjong ke atas menyimbolkan batu nisan, sedangkan jubahnya ibarat peti jenazah, dan bajunya berwarna putih adalah laksana kain kafan.

Seluruh unsur tersebut mengajak kita untuk selalu mengingat kepada kematian(maut). Instrumen yang lain adalah seruling, bukan saja merepresentasikan terompet mitologis untuk menghidupkan kembali orang mati pada hari kebangkitan, melainkan juga menyimbolkan jiwa yang terpisah dari Tuhan, dan bertemu setelah dia dikosongkan dari diri dan diisi oleh jiwa Ilahi.

Dalam ilmu sastra, spesifiknya sebuah sastra sufistik, baik syair maupun lainnya, harus dibedakan antara shurah (morfologi bahasa) dengan al-ma’ani (makna). Bahasa merupakan bentuk eksternal, sedangkan al-ma’ni merupakan bentuk internal (substansi) dari sastra atau puisi.

Sastra atau syair dapat mengekspresikan nilai spiritual apabila keluar dari seseorang yang batinnya sedang bergejolak karena kerinduan kepada Rabb (Allah swt.). Hasil renungan kontemplatif memungkinkan adanya kristalisasi antara pengalaman batin dan pencarian spiritual sebagai manifestasi dari upayanya membangkitkan zikir dan tafakur tentang Tuhan.

Ungkapan bahasa semacam itu akan dapat menenteramkan batin seseorang dan merasa akan melahirkan nilai Rabithah (merasakan kehadiran Rabb dalam jiwanya) yang tinggi.

Menelaah sastra sufistik memberikan sebuah pesan moral kepada pembacanya untuk melakukan pendakian spiritual menuju man ‘arafa nafsah ‘arafa rabbah (Barang siapa mengenal dirinya, pasti akan mengenal Tuhannya). Dalam hal ini seorang sastrawan Melayu, Baharuddin Ahmad mengatakan bahwa kesusastraan sufi adalah tipe yang memanjangkan hakikat kebenaran dan keindahan yang digambarkan secara rinci dalam pernyataan fenomena sifat, tabiat, dan realitas alam rendah dan hubungannya dengan realitas Sejati. (Sastra Sufi, Ahmad Baharuddin, 1992).

Beranjak dari kupasan di atas, gerakan sufistik merupakan ekspresi keindahan (estetika) dan mahabbah (kecintaan) yang berkenaan dengan zikir dan pikir, yakni mengingat dan memikirkan tentang khalqillah (ciptaan Allah swt.) menuju ke gerbang transdental paling akhir untuk berjumpa dengan sang Khalik dengan terlebih dulu harus melewati pintu kematian. Setidaknya dengan banyak mengingat kematian akan membawa kita menuju dan meraih prediket sa’adah (kebahagiaan) yang hakiki kelak nantinya. Semoga!

*Helmi Abu Bakar El-Langkawi adalah Sekretaris LP3M IAI Al-Aziziyah Samalanga dan Staf Pengajar di Dayah Mudi Masjid Raya Samalanga, Bireuen, Aceh.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar