Ada banyak sapaan atau panggilan kekerabatan yang diucapkan oleh suatu kelompok masyarakat. Begitu juga halnya dengan masyarakat Singkil. Orang Singkil memiliki marga dan mendiami sepanjang aliran sungai Soraya di Simpang Kiri dan sungai Cendenag di Simpang Kanan. Bahkan hingga ke hulu sungai di wilayah Singkil lama.
Masyarakat Singkil memiliki 'tata krama' khusus dalam memanggil seseorang, misalnya bagaimana seorang anak bertutur sapa kepada orang tua dan sanak saudaranya. Jika pola komunikasi ini tidak baik maka bisa menyebabkan ketersinggungan. Seseorang yang tersinggung bisa saja mengeluarkan ucapan seperti “mende-mende kona mencerok da!” yang artinya “bagus-bagus kamu berbicara ya!”
Khususnya bagi masyarakat suku Singkil, hal ini harus dipahami benar. Namun tak ada salahnya juga jika Anda yang bukan orang Singkil untuk mengetahuinya. Berikut beberapa sebutan atau panggilan sehari-hari dalam masyarakat Singkil:
Imbang = teman akrab,bisa saja juga disebut sahabat.
Ogek/Tambo/Tapun artinya abang/saudara kandung. Pangilan kepada saudara paling tua atau pangilan kepada orang yang lebih tua dari kita
Uti/Uteh; panggilan kepada kakak perempuan yang lebih tua
Pogek/Pakerek/Pak etek/Muteh; panggilan kepada paman adik dari orang tua laki-laki
Mogek/Mamak/Mambo(Puhun); panggilan kepada paman dari orang tua perempuan
Memberu/pak sayang; panggilan kepada suami bibi adik/kakak perempuan orang tua laki-laki
Tua; panggilan kepada orang tua sepupu dengan orang tua laki-laki maupun orang perempuan
Etek/apun/cekerek; panggilan kepada adik perempuan orang tua