TAKENGON Setelah warga menutup paksa Tempat Pembuangan Akhir (TPA), persoalan sampah semakin rumit untuk diselesaikan Pemerintah Aceh Tengah. Menanggapi persoalan tersebut, kalangan pelaku usaha…
TAKENGON Setelah warga menutup paksa Tempat Pembuangan Akhir (TPA), persoalan sampah semakin rumit untuk diselesaikan Pemerintah Aceh Tengah. Menanggapi persoalan tersebut, kalangan pelaku usaha di Aceh Tengah menawarkan solusi yang dinilai ampuh.
Salah seorang pengusaha Aceh Tengah, Ampera menjelaskan, penanganan sampah tidak menjadi rumit jika pemerintah konsisten membentuk regulasi tatacara pembuangan sampah.
“Terutama sekali harus ada peraturan daerah (perda/qanun) agar pengusaha ini tidak ragu dalam bertindak,” ujar Ampera dalam dialog interaktif di RRI Takengon, Rabu, 4 Mei 2016.
Dengan aturan yang jelas, kata Ampera, pengusaha akan mudah untuk bergerak dalam melakukan kegiatan usaha pengelolaan sampah. Disebutkan, sampah akan sangat menarik bagi pengusaha lantaran banyak manfaat dan keuntungan yang dapat diraup melalui usaha daur ulang.
Itu sebabnya, Ampera menawarkan solusi daur ulang kepada pemerintah agar persoalan sampah dapat tertangani dalam jangka panjang. “Mendaur ulang sampah ke bahan berguna akan sangat menguntngkan, tapi ini harus ada komitmen antara pemerintah dan usahawan,” ujar Ampera.
Menurut dia, setelah sampah melalui proses daur ulang, barulah kemudian sampah tak berbau disimpan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ampera menilai Pemerintah Aceh Tengah dewasa ini masih menggunakan paradigma lama dengan penggunaan TPA sebagai Tempat Pembuangan Sampah (TPS). “Namanya saja Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bukan Tempat Pembuangan Sampah (TPS), ini artinya sampah itu perlu didaur ulang dulu ke barang yang bermanfaat, baru kemudian di buang ke TPA, katanya.
Tanpa pendauran ulang, maka cocok jika TPA itu diganti nama jadi TPS. Toh, semua jadi sampah,” kata Ampera.
Sementara itu, Ketua Gabungan Organisasi Wanita Aceh Tengah, Rahmawati yang juga menjadi sumber dalam dialog itu menyebutkan, pihaknya saat ini juga giat melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan rumah sekolah. Ke depan, ia mengaku akan terus melakukan sosialisasi sampah hingga setiap rumah warga.
Disebutkan, dalam sosialisasi itu materi yang dipaparkan menyangkut seputaran sampah, mulai penggunaan, pendauran ulang hingga bahaya pencemaran lingkungan dari sampah.
“Kita dari organisasi wanita juga bisa mendaur ulang sampah, tapi lagi-lagi ini butuh kerja sama pemerintah,” kata Rahmawati.[]