Tugu itu berdiri kokoh penuh dengan makna bagi masyarakat Aceh Timur. Monumen itu dikelilingi pagar besi berlantai keramik lengkap dengan sebuah pamplet yang bertuliskan Tugu Perdamaian Tragedi Idi Cut, 3 Februari 1999.
Tugu yang dibangun melalui bantuan BRA pada tahun 2012 itu menjadi bukti nyata di mana sebuah tragedi pertumpahan darah hingga merengut nyawa beberapa masyarakat Aceh Timur pada masa itu.
Tragedi tersebut tidak akan hilang dalam jiwa rakyat Aceh. Tragedi pertumpahan darah itu terjadi tepatnya di Simpang Kuala, Kecamatan Idi cut, Kabupaten Aceh Timur, Rabu dini hari, 3 Februari 1999 silam.
Isu yang berkembang pada saat itu bakal diselengarakan sebuah ceramah atau dakwah tentang idelogi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan dalih itu pihak pengamanan sehingga menyusun strartegi agar acara itu tidak terlaksana sampai memakan korban jiwa.
Hal ini diakui oleh salah saktu warga Idi Cut Muhammad, saat ditemui portalsatu.com, 3 Februari 2016. Muhammad menyebutkan dirinya saat itu masih berusia 19 tahun, sedikit banyaknya dia mengetahui dan melihat insiden berdarah yang terjadi waktu itu.
Diduga itu dakwah tentang GAM, jadi aparat saat itu melarang kita membuat acara itu, tapi masyarakat tidak ingin mengubah jadwal dakwah sehingga melanjutkan kegiatan itu. Maklum waktu itu kondisi sangat kacau, sedang terjadi perang besar di Aceh, katanya.
Pada pukul 00.00 wib, 3 Februari 1999 singkat cerita, kata Muhammad, meskipun acara dakwah sorenya sempat diminta untuk dihentikan, namun acara tersebut tetap berlanjut hingga larut malam. Sehingga usai acara itu insiden penembakan brutal oleh oknum pun terjadi tak terbendungi.
Kejadian jih woe bak dakwah watenyan, meunyoe masalah jak bak dakwah tanyoe di Aceh kon rame, jadi nyan keuh hinan ju, jitimbak le awak pakek loreng, tam tum tam tum aju, kenong ureueng, na yang merumpok plueng na yang kenong bude rubah lam pageu, katanya.