TERKINI
OASE

Arbi, Kisah Mantan GAM yang Sukses di Asuransi

i saat mantan kombatan lainnya kini banyak yang bermain proyek, ia justru memilih bergelut dengan dunia asuransi.

PORTALSATU Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 4.7K×

NAMANYA Muhammad Arbi. Saya mengenalnya sejak beberapa tahun lalu di Pidie. Kebetulan saat itu saya sering ke sana. Pria berusia 37 tahun itu berpenampilan biasa saja. Jalannya pun agak pincang. Secara kasat mata nyaris tak ada yang istimewa dari sosok ini.

Setelah mengenal lebih jauh tentangnya barulah kita melihat ada yang beda pada dirinya. Itu pula yang membuat saya mengaguminya sejak awal. Ia selalu berbicara dengan bahasa yang santun. Bahasa tubuhnya menunjukkan kedewasaan berpikirnya yang matang. Dan, meskipun pincang ia selalu terlihat penuh percaya diri.

Arbi adalah seorang mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka. Kepincangannya itu merupakan ‘tanda mata’ dari masa darurat militer. Pertama kali berurusan dengannya saya berpikir pasti tak jauh-jauh dari urusan proyek. Nyatanya tidak.

Di antara banyak mantan kombatan, Arbi bisa dibilang pengecualian. Di saat mantan kombatan lainnya kini banyak yang bermain proyek, ia justru memilih bergelut dengan dunia asuransi. Pilihannya jatuh pada Prudential. Ia mulai menjadi agen di perusahaan asuransi itu awal 2013. Berkat keuletannya pertengahan 2014 ia sudah diangkat menjadi Unit Manager. Penghargaan dan promosi jabatan itu diserahkan dalam bentuk penghargaan oleh pimpinan Prudential Renaldi Mundahar.

Pekerjaan yang dilakoni Arbi sebagai agen asuransi tidaklah mudah. Konon lagi sebagai bekas pemanggul senjata sepertinya. Profesi ini tak lazim di kalangan mantan petempur. Saat awal-awal bertemu saya dulu, ia sempat memaparkan beberapa produk asuransinya kepada saya.

Saya memperhatikan caranya menjelaskan dan mempromosikan. Sangat mengagumkan dan menarik perhatian saya. Menjadi agen asuransi bukanlah profesi instan. Hanya orang yang ulet dan pekerja keras saja yang bisa sukses di bisnis ini. Jika Arbi yang hanya lulusan SMA mampu menekuni hal tersebut, bukankah ia memiliki daya juang yang luar biasa?

“Bek meuron-ron ho yang rame (jangan ikut-ikutan),” katanya mengutarakan niatnya menjadi agen asuransi kepada saya suatu ketika.

Menurutnya, sebagian besar rekan-rekannya memilih menjadi kontraktor. Namun ia malah melihat teman-temannya itu sebagai peluang pasar dari kegiatan yang dilakukannya. “Saya melihat mereka pasar yang besar bagi asuransi,” katanya.

Setelah itu kami tidak pernah lagi bertemu. Sesekali kami bertegur sapa melalui saluran BBM. Menjelang Ramadan lalu saya berada di Sigli terbilang lama. Sayapun kembali mengontak Arbi. Kami bertemu sambil minum kelapa muda di pinggir pantai di sekitar Meuligoe Bupati Pidie.

Saat menerima penghargaan sebagai Unit Mager pada 2014 lalu

Arbi kembali menceritakan sepenggal kisah suksesnya. Ia bercerita jika pada Mei tahun lalu baru mendapat hadiah keliling Eropa. Kini dia memegang jabatan sebagai Unit Manager.

“Tim saya hampir di seluruh Aceh, bahkan di Sumut dan di provinsi lain,” katanya.

Soal penghasilan, rata-rata yang ia dapatkan perbulan sama dengan yang dihasilan oleh pejabat eselon dua di Pemerintah Aceh. Penghasilan yang dinamis cukup untuk mengikuti gaya hidup kelas menengah. Mantan Panglima Sagoe Geulumpang Payong Pidie ini berputra tiga. Anaknya yang tertua saat ini kelas 2 SMA di Pesantren Ummul Aiman Samalanga, Bireuen.

“Saya Panglima Sagoe masa perang, bukan setelah dengan. Saya dipanggil Cicem Rimba,” kata suami Cut Suryani ini.

Warga Gampong Sangget Kecamatan Geulumpang Baro Pidie ini juga banyak merekrut teman-teman mantan seperjuangan untuk menjadi agennya. Dalam kesempatan di Ramadan lalu, ia juga sempat menceritakan kisah kakinya yang pincang.

“Saya tertembak dalam sebuah pertempuran di Pulo Krueng Didoh Mutiara Timu malam 17 Agustus 2003,” jelasnya mengenang. Akibatnya dia harus dioperasi sampai enam kali. “Saya dioperasi di Indonesia dan Malaysia atas bantuan NGO, jadi hana pakek peng nanggroe,” ungkapnya berkelakar.

Kini dia rajin berkeliling Aceh untuk memasarkan Asuransi. “Dengan cara begini saya juga ingin menunjukkan bahwa semua orang bisa sukses kalau yakin berusaha,” tambah Arbi.

Sejak merintis mulai dari agen sampai menjadi leader, Arbi tak pernah berhenti belajar. Ia rajin membaca buku-buku motivasi dan ikut berbagai seminar. Ia ingin menunjukkan bahwa mantan pemanggul senjata pun bisa mandiri tanpa bantuan pemerintah. Ia ingin menunjukkan bukti bahwa tidak semua mantan GAM harus sukses dengan bantuan atau perhatian pemerintah.

“Banyak juga kawan-kawan saya usai perang kembali menjadi masyarakat biasa dengan berbagai profesi juga tidak mengharap bantuan,” ucapnya.

Meski sudah sukses di jalur berbeda, perjuangan tetap tidak ia tinggalkan. Selaku kader partai bentukan mantan GAM, ia aktif dan terlibat dalam tugas apapun. Menurutnya Partai Aceh adalah wadah perjuangan baru pasca perang. Ia akan selalu setia dengan seunambong perjuangan melalui politik.

“Walau saya kadang mengkritik tapi tetap han lon boh kawan, sabab menya jioh ngon kawan bagah dicok le rimueng, hahahah,” tamsilnya.

Arbi hanya ingin mengajak rekan-rekannya mengubah pola pikir agar tidak terlalu berharap pada siapapun. Setiap orang bertanggung jawab pada masa depannya sendiri. Arbi pribadi sangat tertantang untuk membuktikan bahwa sukses itu lebih ditentukan oleh pola pikir positif dan kerja keras.

“Saya tidak mau menggantungkan nasib pada siapapun, apalagi mengharap belas kasihan,” ucapnya.

Baginya reintegrasi mantan GAM tidak hanya bantuan pemberdayaan. Tapi bagaimana kawan-kawannya berpikir untuk memberdaya diri sendiri. “Kadang kita perlu mengubah pola pikir. Jangan terlalu berharap pada orang lain, bahkan kepada orang tua sendiri, karena kalau tidak terkabul nanti sakit hati dan kecewa,” tambah Arbi.

Ia juga mengatakan jika dirinya tidak pernah berharap bantuan pemerintah untuk pribadi. Pekerjaannya saat ini sudah cukup layak baginya, selain mendapatkan penghasilan yang memadai, ia juga bisa berlibur gratis ke berbagai negara.

“Yang paling membuat saya bahagia saat ini adalah saya mampu mengubah pola pikir putra-putri Aceh yang ingin bekerja dan mendpatkan penghasilan bulanan, ini salah satu terobosan dalam mengurangi pengangguran di Aceh. Bagi saya hidup memang keras, tapi indah, pengalaman pahit tapi membawa nikmat dengan selalu berpikir positif dan insya Allah semua apapun yang kita inginkan akan berhasil,” katanya.[] (ihn)

PORTALSATU
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar