NAMANYA Muhammad Arbi. Saya mengenalnya sejak beberapa tahun lalu di Pidie. Kebetulan saat itu saya sering ke sana. Pria berusia 37 tahun itu berpenampilan biasa saja. Jalannya pun agak pincang. Secara kasat mata nyaris tak ada yang istimewa dari sosok ini.
Setelah mengenal lebih jauh tentangnya barulah kita melihat ada yang beda pada dirinya. Itu pula yang membuat saya mengaguminya sejak awal. Ia selalu berbicara dengan bahasa yang santun. Bahasa tubuhnya menunjukkan kedewasaan berpikirnya yang matang. Dan, meskipun pincang ia selalu terlihat penuh percaya diri.
Arbi adalah seorang mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka. Kepincangannya itu merupakan tanda mata dari masa darurat militer. Pertama kali berurusan dengannya saya berpikir pasti tak jauh-jauh dari urusan proyek. Nyatanya tidak.
Di antara banyak mantan kombatan, Arbi bisa dibilang pengecualian. Di saat mantan kombatan lainnya kini banyak yang bermain proyek, ia justru memilih bergelut dengan dunia asuransi. Pilihannya jatuh pada Prudential. Ia mulai menjadi agen di perusahaan asuransi itu awal 2013. Berkat keuletannya pertengahan 2014 ia sudah diangkat menjadi Unit Manager. Penghargaan dan promosi jabatan itu diserahkan dalam bentuk penghargaan oleh pimpinan Prudential Renaldi Mundahar.
Pekerjaan yang dilakoni Arbi sebagai agen asuransi tidaklah mudah. Konon lagi sebagai bekas pemanggul senjata sepertinya. Profesi ini tak lazim di kalangan mantan petempur. Saat awal-awal bertemu saya dulu, ia sempat memaparkan beberapa produk asuransinya kepada saya.
Saya memperhatikan caranya menjelaskan dan mempromosikan. Sangat mengagumkan dan menarik perhatian saya. Menjadi agen asuransi bukanlah profesi instan. Hanya orang yang ulet dan pekerja keras saja yang bisa sukses di bisnis ini. Jika Arbi yang hanya lulusan SMA mampu menekuni hal tersebut, bukankah ia memiliki daya juang yang luar biasa?
Bek meuron-ron ho yang rame (jangan ikut-ikutan), katanya mengutarakan niatnya menjadi agen asuransi kepada saya suatu ketika.
Menurutnya, sebagian besar rekan-rekannya memilih menjadi kontraktor. Namun ia malah melihat teman-temannya itu sebagai peluang pasar dari kegiatan yang dilakukannya. Saya melihat mereka pasar yang besar bagi asuransi, katanya.
Setelah itu kami tidak pernah lagi bertemu. Sesekali kami bertegur sapa melalui saluran BBM. Menjelang Ramadan lalu saya berada di Sigli terbilang lama. Sayapun kembali mengontak Arbi. Kami bertemu sambil minum kelapa muda di pinggir pantai di sekitar Meuligoe Bupati Pidie.
Saat menerima penghargaan sebagai Unit Mager pada 2014 lalu
Arbi kembali menceritakan sepenggal kisah suksesnya. Ia bercerita jika pada Mei tahun lalu baru mendapat hadiah keliling Eropa. Kini dia memegang jabatan sebagai Unit Manager.
Tim saya hampir di seluruh Aceh, bahkan di Sumut dan di provinsi lain, katanya.
Soal penghasilan, rata-rata yang ia dapatkan perbulan sama dengan yang dihasilan oleh pejabat eselon dua di Pemerintah Aceh. Penghasilan yang dinamis cukup untuk mengikuti gaya hidup kelas menengah. Mantan Panglima Sagoe Geulumpang Payong Pidie ini berputra tiga. Anaknya yang tertua saat ini kelas 2 SMA di Pesantren Ummul Aiman Samalanga, Bireuen.