HARI ini publik kembali disuguhkan cerita pilkada 2017. Kabarnya Doto Zaini berencana maju lagi di pilkada ke depan. Di media sosial berseliweran komentar. Ada yang netral. Hampir tidak ada yang positif. Ada yang menganggap bahwa statemen ini lebih karena gubernur menggertak. Menggertak anak buahnya agar fokus bekerja. Lebih untuk mengendalikan loyalitas para pejabat di lingkungan Pemerintah Aceh.
Tentu cara ini perlu kita lihat efektivitasnya. Kita akan lihat kinerja aparatur sampai akhir tahun ini. Tapi selebihnya wacana beliau maju takkan dipercaya publik. Pasalnya sepanjang tiga tahun ini jelas sekali beliau amat lemah kontrol terhadap kinerja anak buahnya.
Tindakan yang paling signifikan dalam mengelola birokrasi adalah mutasi. Sepanjang 3 tahun ini telah belasan kali mutasi. Mulai eselon 1 yaitu sekda sampai ke eselon empat. Hasilnya, ya seperti yang kita lihat tiga tahun ini. Terhadap keinginan beliau maju lagi, sah-sah saja sebagai hak demokrasi. Namun tentu banyak pihak percaya beliau tidak akan terpilih. Bila begini, sungguh ini akan menjadi pukulan telak bagi mantan Menteri Luar Negeri GAM ini.
Nah kenapa kalimat ini beliau ucapkan kemarin? Boleh jadi beliau terpancing dengan pemberitaan media. Atau ini adalah jawaban ketakutan orang sekelilingnya. Mereka yang saat ini sedang menikmati empuknya duduk di samping kursi gubernur, amat takut ini akan berakhir.
Mereka yang selama ini menjadi decicions maker atau pembisik utama gubernur sedang galau. Mereka pasti amat takut kehilangan. Bahkan mereka mulai berpikir kemana akan pergi setelah kekuasaan ini berakhir. Sehingga membuat bermacam pertimbangan.
Tapi mereka harus sadar, kondisi carut marut perilaku pemerintah saat ini tidak lepas dari andil mereka. Bukalah aturan tentang kewenangan gubernur baik di aturan nasional maupun di UUPA. Jelas sekali bagaimana fungsi dan tugas gubernur. Tidak ada disitu diterangkan tugas pembisik walaupun dengan segala label jabatan. Maka seharusnyalah mereka memberi masukan yang benar. Karena mereka pasti tahu pemerintah ini sedang oleng. Dan dalam kasus ini tidak bisa menyalahkan siapapun selain pemilik otoritas itu sendiri.
Makanya bila segala tindakan gubernur diiyakan para pembantunya, maka berlakulah kisah kancil pilek di depan raja hutan. Mengaku tidak bisa merasakan apapun demi menyelamatkan diri. Alangkah mirisnya Gubernur Aceh punya banyak intelektual di sekelilingnya. Tapi terus saja berkinerja negatif.