LHOKSEUMAWE Pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir) kini mencapai empat tahun. Dalam perjalanan rezim ini, hubungan Doto Zaini dan Mualem retak alias pecah kongsi. Kondisi tersebut sangat disesalkan publik lantaran berimbas terhadap tatakelola Pemerintah Aceh. Publik berharap pemimpin Aceh hasil pilkada 2017 tak jatuh ke lubang yang sama.
Sosiolog Unimal Dr. Nirzalin, M.Si., menyebut pecah kongsi antara Doto Zaini dengan Mualem sudah terlihat terang benderang sejak tahun kedua pemerintahan Zikir. Ini kemudian menjadi satu basis sebagai cacat bawaan terhadap pemerintahan mereka sampai hari ini, kata Nirzalin kepada portalsatu.com, di Lhokseumawe, akhir pekan lalu.
Jadi, miskomunikasi di antara mereka, bahkan ada yang tidak terkomunikasi sama sekali. Beberapa kebijakan yang sudah diputuskan akhirnya tidak terlaksana dengan baik, karena gubernur mau begini, wagub mau begitu. Ini bermasalah, ujar Nirzalin.
(Baca: JK: Saya Berharap Gubernur Zaini dan Mualem Kompak)
Itu sebabnya, menurut Nirzalin, ke depan Aceh butuh satu pasangan pemimpin yang solid, memiliki pertautan hati hingga akhir pemerintahan. Maka sebetulnya yang paling penting ke depan itu, kita perlu gubernur yang memahami politik dengan baik, lalu wakil gubernur yang mampu memahami pemerintahan dengan baik. Memahami pemerintahan terutama dalam memenej semua birokrasi dengan baik, katanya.